Kamis, 07 Desember 2017

Siapa Takut, Laki-laki Hadir di Netizen Gathering Tentang Kesetaraan Gender



Ki-Ka : Martha Simanjutak, Maman Suherman, Ina Rachman - dokpri

Coba bayangkan, bagaimana, kalau sebuah program yang sangat bagus, ternyata tidak direspon masyarakat. Semua menguap begitu saja, waktu, tenaga dan upaya seolah sia-sia. Sayangkan.
Bagaimana agar sebuah program, bisa disambut dengan hangat. Jawabnya, perlu disosialisasikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Cara kampanye, juga mengikuti tren yang sedang berlangsung.
KPP-PA, satu diantara Kementrian, yang diberi mandat spesifik. Melihat perkembangan era digital, media sosial menjadi saluran strategis. Blogger atau netizen, adalah para penggiat di belakang medsos.
Sebagai wujud nyata, KPP-PA berupaya melebur dengan jaman now. Dengan menggelar “Netizen Gathering”, di Hotel Atlet Century Senayan Jakarta.
Mengangkat tema, “Menciptakan Konten Kreatif Berbasis Kesetaraan Gender Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.”
Acara diselenggarakan KPP-PA bekerjasama dengan IWITA (Indonesia Women Information Technology Awareness.
Netizen Gathering tampak meriah, karena ada dress code ditetapkan. Peserta berbusana daerah, mencerminkan keberagaman dalam persatuan.
Maka pagi itu, tampak  ada yang memakai kain ulos, Batik, baju Betawi, Bali, dan lain sebagainya. Saya tidak mau kalah dong, memakai baju lurik jawa plus blangkon.
Ibu Ratna Susianawati SH MH,  selaku, Asistant Deputi Kesetaraan Gender dalam Bidang Infrastruktur dan Lingkungan KPPPA, menyampaikan dalam sambutannya, “Perempuan sebagai sumber daya potensial pembangunan, perempuan, masih tertinggal di berbagai sektor pembangunan.”
Upaya pemerintah sudah jelas, dengan mengeluarkan produk UU no 7 tahun 1984, meratifikasi segala kekerasan dan tindakan diskriminasi terhadap perempuan.
Kemudian undang undang yang sangat operasional, yaitu UU 23 tahun 2014. UU Perlindungan anak, no 23 tahun 2002, dan no 35 tahun 2014.
Tak ketinggalan UU no 1 tahun 2017 – tentang kebiri, sebagai UU paling fenomenal. Serta ditetapkan Inpres nomor 9 tahun 2000, tentang kesetaraan gender.

Ibu Ratna Susianawati, Asistant Deputi Kesetaraan Gender dalam Bidang Infrastruktur dan Lingkungan KPP-PA (dokpri)
Kesetaraan Gender.
Kawan, dalam acara ini saya tercerahkan. Bahwa gender, sejatinya bukan masalah perempuan saja.
Tapi persoalan terminologi, bagaimana membangun partnership, berbagi tugas dan peran antara laki-laki dan perempuan – ada juga kelompok anak dan lansia.
Ingat Ya. Gender bukan Kodrat !
Kodrat perempuan – ada empat, yaitu menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui. Kodrat ini, sampai kapanpun tidak dimiliki laki-laki.
Sementara gender, adalah budaya atau konstruksi sosial. Jadi kesetaraan gender, bukan berarti pukul rata semua situasi untuk laki-laki dan perempuan.
Contohnya, kalau ada genteng bocor. Mentang- mentang (bilang) kesetaraan gender, perempuan musti naik ke atas genteng.
Ada norma sosial berlaku, bahwa kalau ada laki-laki --mengacu norma sosial, sebaiknya mereka lebih dulu membetulkan genteng. Kalau tidak ada, (mau tidak mau) baru perempuan membetulkan genteng, daripada rumah kebanjiran.
Menyoal kesenjangan laki-laki dan perempuan, KPP-PA punya program unggulan “Three Ends” :

Akhiri kekerasan ibu dan anak
Akhiri perdagangan manusia
Akhiri kesenjangan ekonomi bagi kaum perempuan.

Saat ini, digalakkan perlindungan anak berbasis masyarakat. Dengan program “PUSPA”, singkatan Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Ibu dan Anak.
Mengingat, angka pedofilia dan pornogafi anak ternyata masih tinggi. Sementara, prosentase pelaku kejahatan pada anak, ternyata adalah orang terdekat (teman, paman, tetangga).
KPP-PA terus menekankan, pentingnya memperhatikan pola pengasuhan, bahwa pengasuhan terbaik adalah keluarga.
-0-
Foto bersama Kang Maman- dokpri
Acara Netizen Gathering semakin seru, dengan kehadiran narasumber keren, Kang Maman Suherman.
Sudah seperti yang saya duga, Kang Maman, selalu tampil memukau. Gaya bahasanya ciamik, membuat mata dan telinga focus.
Tahun 2012 Indonesia menjadi tujuan wisata seks Pedofil Australia nomor satu” Kang Maman mengawali pemaparan dengan fakta mencengangkan
Anak dengan kemiskinan, dijadikan alat. Si orang tua dikirimi uang, kemudian diminta mengirimkan foto anaknya yang telanjang dan disebar.
Maka tak heran, Indonesia tujuan pariwisata seks anak terbesar di dunia. Lampu merah kasus pedofilia, bermula dari kita –para orang tua, terlalu permisif, bangga mengupload anak di medsos.
Persoalannya lain muncul, masih terdapat ketimpangan -- desa dan kota, dalam mendapat akses pelayanan kesehatan dasar.
Sejumlah 86% ibu melahirkan di Puskesmas, dengan angka kematian 306 setiap 100ribu kelahiran. Angka ini relatif cukup besar, dampak dari terjadinya perkawinan anak.
Terjadinya kasus persekusi, rentan menjadi korban adalah perempuan dan anak. Kita (sebagai netizen) musti menentang persekusi, dengan alasan apapun.
ada filter 3 B, sebelum netizen sebar berita” Kang Maman berbagi tips.
Apa sih 3 B, kita musti yakini bahwa berita yang hendak disebar, Bener, Baik, Bermanfaat.
Catatan tahunan komnas perempuan 2017, kekerasan terhadap perempuan berada di angka 259.150 kasus. 245.458 diantaranya, adalah kekerasan terhadap istri berujung perceraian.
Angka komnas perempuan (lagi), dalam 24 jam terjadi 35 kekerasan seksual terjadi, 20 diantaranya diperkosa.
Kekerasan sudah menjadi budaya di ruang privat, KDRT berdampak pada budaya kekerasan pada anak.
Bagaimana tidak, suami yang berlaku KDRT pada istri, biasanya akan merembet pada anaknya.
Hal senada disampaikan narsum kedua, Ibu Ina Rachman, beliau seorang Advokat dan aktivis KPA.
“90% korban, keluarga tidak tahu apa yang terjadi dengan anaknya,” Jelas Ibu Ina.
Proteksi keluarga sangat penting, agar anak tidak terlalu mendewakan orang lain. Penting, menanamkan perasaan nyaman di rumah, agar anak terbuka dan mau bercerita apapun pada ayah dan ibu.
Menyinggung kasus persekusi dan dampaknya, ratingnya semakin tinggi, karena ulah perempuan juga.
Coba kita perhatikan, kasus (maaf) pelakor, atau pembullyan terhadap public figur, biasanya dibesar-besarkan oleh perempuan juga.
Mengenal Serempak
Ibu martha Simanjutak, sebagai founder IWITA, memaparkan tentang Serempak.
Serempak atau seputar Perempuan dan anak, adalah edukasi, advokasi, berbagai inspirasi dan pencapaian "Three Ends".
Serempak, menggunakan media interaksi berbasis masyarakat. Isu yang disampaikan, dipromosikan melalui literasi digital, melalui website www.serempak.co.id
Literasi digital, adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten informasi dengan kecakapan kognitif, etika sosial, emosional dan akses informasi teknologi.
Serempak, mengaplikasikan multi platform, mulai dari live chat, citizen jurnalism dan sebagainya.
Yang paling penting, semua platform user friendly, dengan team work, dari unsur pemerintah, stakeholder dan masyarakat.
Nah, acara Netizen Gathering, nan keren dan bermanfaat ini. Atas peran Serempak, sebagai jembatan komunikasi, antara KPP-PA dengan masyarakat (dalam hal ini netizen).
Coba, kalau netizen diedukasi dengan konten ramah perempuan dan anak. Bukan mustahil, tersebar (bahkan viral) konten positif, berkontribusi menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Ibu Sri Danti, Plt Deputi Bidang Kesetaraan Gender KPP-PA ( foto dari www.roelly87.com )
Ibu Sri Danti, Plt Deputi Bidang Kesetaraan Gender KPP-PA, pada akhir acara berpesan,”Netizen harus dapat menyajikan konten yang berkesetaraan gender. Media Sosial sebagai wadah mensosialisasikan pencegahan kekerasan pada perempuan dan anak.
Wah, lengkap sudah, otak ini diisi dengan materi informatif. Sebagai (netizen)  laki-laki,  tak ada salahnya lho, berperan aktif dalam upaya penyadaran kesetaraan gender. 
Pada ujung acara Netizen Gathering, diumumkan pemenang live tweet, live IG dan lomba joged Three Ends. – Salam Serempak-

Minggu, 03 Desember 2017

Aplikasi GAWE Solusi Praktis mendapatkan Pekerjaan

Aplikasi GAWE -dokpri

Beberapa tahun ke depan, Indonesia diberkahi bonus Demografi. Rentang tahun 2020 – 2035, diprediksi jumlah usia produktif mengalami lonjakan. Saya membayangkan, anak-anak muda dengan ide segar dan kreatif, serta semangat luar biasa.
Pada era milenial yang serba digital, terbukti anak muda menjadi pemimpin perubahan. Aneka start up lahir, buah dari pemikiran kaum muda. Termasuk Aplikasi GAWE, sebuah aplikasi yang membantu user, mendapat pekerjaan sementara (temporary employee).
Saya dulu, pernah mengalami repotnya kuliah sambil bekerja. Kesulitan saya alami, dalam hal membagi waktu keseharian. Setiap pagi berangkat ke tempat kerja, sore pulang ke kost sebentar, kemudian berangkat lagi ke Kampus.
Kalau pekerjaan sedang standart – tidak terlalu ramai, rutinitas harian tersebut tidak terlalu masalah. Tapi, ketika kerjaan sedang ramai- ramainya, wah bisa keteteran jadwal kuliah. Masalah tambah rumit, kalau kerjaan ramai, barengan dengan musim ujian.
Saya bersyukur, bisa melewati empat tahun penuh peluh. Kalau malam hari, rasanya badan remuk, minta segera berbaring di atas ranjang.
-0-
Lain dulu lain sekarang. Mahasiswa jaman now, tidak perlu kerepotan lagi, kalau mau mencari uang tambahan. Kerja apa saja, asal halal, kenapa musti malu.
Kebayang kan, bagaimana gelisahnya, menunggu kiriman uang bulanan dari orang tua. Sementara, tenggat tanggal setor uang kost makin dekat, uang ujian harus dibayarkan dalam hitungan hari, belum lagi kebutuhan ini dan itu, untuk memperlancar perkuliahan.
Mengandalkan orang tua saja, rasanya juga serba salah dan serba tidak enak. Mungkin saja, ayah dan ibu di rumah, sedang ada kebutuhan lain diprioritaskan. Entah bayar sekolah adik, atau keperluan lainnya.
Sebagai mahasiswa, sudah masuk usia ambang dewasa. Tidak ada salahnya kan, mulai belajar menyelesaikan masalah sendiri. Mengusahakan cari uang sendiri, untuk mengatasi kebutuhan sendiri.
Ahza(dot)net
Kalau Bekerja, Terus Kuliahnya bagaimana?
Kalian, tidak perlu mengalami kerepotan seperti saya alami. Musti kirim setumpuk lamaran, ngider ke beberapa kantor dan siap bekerja office hour ( jam 8 – 17)
Nih, ada kabar keren dan solutif. Tak perlu jauh-jauh, bisa ditemui via android. Coba deh, download aplikasi GAWE.  Sebuah inovasi tehnologi, menghubungkan pengusaha skala kecil menengah (UKM) dengan tenaga kerja honorer/ harian.
Saya sudah download dong, fiturnya sangat user friendly. Setelah regrist, kemudian diapproval, akan muncul laman "Cari Pegawai" dan "Cari Kerja".  Silakan pilih, fitur yang diinginkan, selanjutnya, bisa langsung dieksplor.
Lokasi pekerjaan, bisa dipilih dengan jarak paling jauh 5 KM ( dari posisi pencari kerja). Wah, mirip dengan ojek online ya.
Selain mencari pekerjaan, juga ada artikel terkait. Seperti "Tips Menemukan Kerja Part Time", " Tips Mencari Peluang Kerja Online", "Kerja Sambilan Waktu Malam" dan seterusnya.
Pokoknya, dijamin Keren Abis.
Aplikasi GAWE, dilaunching pada 17 November 2017. Ada tiga nama penting di balik Gawe, yaitu Kurniawan Aryanto Co-founder, Elroy Hafidi Hardoyo sebagai CEO  dan Budiarto Harsono Co-founder.
Aplikasi ini membantu orang banyak untuk mendapatkan penghasilan, sehingga bisa menghidupi banyak kalangan,” ungkap Kurniawan Aryanto.
Pernyataan Co-founder Gawe, sangat tepat. User tanpa keahlian khusus, tanpa harus membuat lamaran dan tanpa modal – min untuk fotocopy berkas, dengan cepat bisa mendapat pekerjaan.
Founder Aplikasi GAWE ( Ki- Ka ) ; Budiarto Harsono, Elroy Hafidi Hardoyo dan Kurniawan Aryanto
Coba saja bayangkan, misal ada UMKM laundry, sedang kebanjiran order, membutuhkan untuk tenaga delivery sekaligus packing.
Mereka butuh tenaga tambahan dengan cepat, tidak memungkinkan pasang iklan lowongan kerja, kemudian recruitmen karyawan tetap, khusus antar barang dan pengemasan.
Penerimaan pegawai permanen, pasti tidak bisa sembarang terima. Banyak hal dipertimbangkan, seperti memperhitungkan budget, memikirkan gaji bulanan, belum lagi tunjangan ini dan itu.
Temporary employee, sebagai solusi praktis dan cepat, bisa diberlakukan UKM. Yang pasti, meringankan dari sisi biaya, tidak membebani perusahaan dari sisi sumber daya manusia (SDM).
Sedangkan buat pekerja (misalnya mahasiswa), pekerjaan sementara bisa menjadi jalan keluar, untuk mengatasi kebutuhan keuangan – setidaknya, sambil menunggu kiriman dari orang tua.
Atau, kalau sedang mencari pekerjaan permanen, pekerjaan sementara bisa menjadi batu loncatan. Sembari menunggu panggilan interview, sebelum diterima Perusahaan yang dituju.
Kita ingin mendukung, banyak anak mahasiswa menyelesaikan kuliahnya tanpa takut terkendala biaya, dan ini bisa menjadi pengalaman mereka untuk masuk di dunia kerja ataupun mengasah kemampuan mereka untuk menjadi pengusaha,” tambah Elroy Hafidi Hardoyo.
Eit’s, jangan khawatir lho, non mahasiswa juga bisa. Aplikasi Gawe, bisa diakses oleh masyarakat secara umum.
Aplikasi Gawe, bisa dijadikan model bisnis, menggerakkan perkonomian, tanpa menambah beban biaya. Dari sisi UKM dan User, kedua pihak berada pada posisi win win atau sama sama untung. Employee  dan employer, menjadi dua pihak, yang harus tumbuh berkembang seiring sejalan.
Siapa nyana, meski masih usia seumur jagung, Gawe mulai dilirik investor. Pendanaan Seri A melalui dana Ventura, dirasakan tepat untuk diterapkan saat ini.
kami ingin mencari partner yang mempunyai visi yang sama dalam membangun dan mengembangkan aplikasi Gawe,” jelas Budiarto Harsono.
Kalau kalian mulai penasaran, yuk cari tahu tentang Gawe di GaweDulu . Para Founder, ingin Gawe tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga melangkah ke Asia.- Salam Kreatif dan Kerja Keras -

Sabtu, 02 Desember 2017

“Women and Diabetes” Tema Hari Diabetes Sedunia 2017


Mentri Kesehatan,  Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp. M (K), memberi sambutan dalam peringatan hari Diabetes Sedunia 2017 -dokpri

Mengapa “Women and Diabetes”, diangkat menjadi tema, peringatan hari Diabetes Sedunia 2017. Menurut data, saat ini ada 119 juta perempuan dengan diabetes.
Kalau tidak segera diatasi, diprediksi akan terjadi peningkatan, pada tahun 2040, angka perempuan dengan diabetes akan mencapai angka 313 juta.
Pemaparan tersebut, disampaikan dr. Untung Suseno Sutarjo, Sekretaris Jendral Kementrian Kesehatan, pada peringatan hari Diabetes Sedunia, tanggal 29 November 2017, di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta.
Saya sendiri baru tercerahkan, ternyata, ada hari Diabetes Sedunia. Meski sempat bertanya-tanya, mengapa penyakit kok diperingati.
Jawaban itu saya dapati, dari pernyataan Bapak Sesjend Kemenkes. Peringatan hari Diabetes Dunia, sebagai upaya, agar masyarakat dunia khususnya Indonesia, semakin peduli dan menjaga kesehatan.
Apalagi, Indonesia menjadi merupakan negara epidemi diabetes. Berdasarkan data graik DM, pada tahun 2017 mulai terjadi pelambatan.
Pelambatan DM, terjadi berkat upaya pemerintah seiring dengan tingkat kesadaran masyarakat. Kemenkes, menginisiasi program Germas, Cerdik dan program Lainnya. Semoga saja, pelambatan DM bisa berkelanjutan, hingga zero increase.
Booth Posbindu -dokpri
Kemenkes, telah membentuk 13.500 Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu). Hal ini dilakukan, demi mempermudah akses warga, melakukan deteksi dini penyakit DM.
Nah, Aksi CERDIK digaungkan, dengan cara sangat simple, berikut apa itu CERDIK.
Cek Kesehatan ;
Perlu kita, melakukan chek kesehatan secara teratur. Sebagai upaya, guna mengendalikan berat badan, agar tetap ideal dan tidak beresiko mudah sakit.
Enyahkan asap rokok ;
Jelas dong, merokok sangat merugikan kesehatan. Tak hanya perokok aktif lho, perokok pasif – yang menghisap asap- juga terdampak kesehatannya.
Rajin Melakukan Aktivitas Fisik ;  
Ternyata, aktivitas fisik min 30 menit sehari, besar manfaatnya dan bisa dilakukan kapapun. Misalnya, berjalan kaki, untuk naik turun tangga, membersihkan rumah, berjalan kaki untuk pergi ke satu tempat – dengan jarak terukur, dst.
Diet Seimbang ;
Seimbang dalam mengonsumsi makanan, tentu dengan kandungan gizi seimbang pula. Perhatikan asupan buah dan sayur, minimal 5 porsi per hari. Indonesia, termasuk rendah, konsumsi buah dan sayur, padahal tanah kita subur, semua tanaman bisa tumbuh.
Jangan lupa menekan konsumsi gula, maksimal 4 sendok makan atau 50 gram per hari. Gula, sangat mudah ditemui di aneka jenis makanan. Mulai dari aneka cake, aneka minuman buah dengan pemanis, desert dan lain sebagainya. So, hati-hati konsumsi gula, pemicu utama DM.
Istirahat Cukup ;
Kita semua pasti paham, sistem imunitas tubuh, dipengaruhi oleh pola tidur yang cukup. Sesibuk apapun bekerja, jangan sampai lupa tidur atau istirahat.
Kelola Stress ;
kita tidak bisa menghindari stress, namanya manusia hidup, pasti punya masalah. Namun, sedapat mungkin mengelolanya, sehingga stress tidak berkepanjangan.
-0-
Simposium "Hari Diabetes Sedunia 2017" dokpri
Perkembangan tehnologi, ditandai dengan berlangsungnya era digital. Kehadiran Tehnologi, sangat mempermudah manusia modern. Pada satu sisi, kemyamanan membuat kita mager (malas gerak).
Dalam sambutan Mentri Kesehatan,  Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp. M (K), pada peringatan hari Diabetes Sedunia. 
Mengajak masyarakat, untuk rajin beraktivitas fisik, serta memperhatikan asupan serat, melalui buah dan sayuran.
Masyarakat, musti menyadari, bahwa DM adalah ibu dari segala penyakit. Perempuan dengan diabetes, akan memberi dampak pada angka kematian ibu saat melahirkan, berpengaruh pada balita tentunya.
Menkes menekankan, upaya promotif dan preventif, dengan melakukan penguatan layanan kesehatan primer.
Walapaun sedang dilakukan upaya penguatan, masyarakat tetap harus pro aktif. Dengan mendorong, aktif berobat ke layanan kesehatan primer saat sakit.
Coba saja, kalau komponen sederhana dalam CERDIK, mulai dilakukan setiap individu dalam masyarakat. Sangat mungkin, kita bisa turut mengantisipasi, tidak terjangkit penyakit DM.
O'ya, ada tips sederhana, bagaimana kita menjaga bobot tubuh, sekaligus meminimalisir DM. Yuk, sama-sama ukur lingkar pinggang. Pinggan, dengan ukuran empat jengkal tangan, artinya termasuk berat badan ideal. - Salam Sehat- 

Minggu, 26 November 2017

Jangan Ragu Berujar, Buah Pasti Sunpride !



Sunpride -dokpri

Saya yakin, sebagian besar kita yang di kota, gemar mengonsumsi buah. Apalagi, Indonesia negara dengan iklim tropis. Sangat memungkinkan, aneka jenis tanaman dengan mudah tumbuh di bumi pertiwi.
Sampai-sampai, selain ada dua musim, yaitu hujan dan panas. Kita juga mengenal, musim buah-buahan.
Sebut saja, musim rambutan, musim mangga, musim durian, musim duku, musim jeruk dan musim buah-buahan lainnya.
Siapa coba, tidak betah, hidup di negeri yang subur makmur ini. Bahan pangan tersedia, bahkan bisa menanam sendiri di pekarangan.
Dalam keluarga kecil saya, beberapa buah masuk daftar kegemaran. Pepaya, semangka, pisang, melon, mangga menjadi lima pilihan pertama.
Meski sebenarnya, tidak menolak buah lain, selama tidak menyebabkan mabok—hehhee. Saya kurang gemar durian atau nangka, dua buah ini, membuat pusing dan perut saya mulas—dont worry, ini masalah selera.
Seiring kemajuan tehnologi, buah disulap dalam bentuk berbeda. Diirajang tipis, diolah dan dikemas, untuk menarik minat konsumen.
Ada yang dibuat keripik atau manisan buah, dibungkus plastik tebal kemudian difacum. Ada yang dijadikan cocktail buah, disajikan dalam kemasan kaleng.
Padahal, -menurut saya nih- pengolahan buah segar, memungkinkan terjadi pengurangan – besar-besaran-, kandungan nutrisi dalam buah.
Saya pribadi, lebih suka konsumsi realfood. Baik untuk buah organic—dikonsumsi sekalian kulitnya-, misal jambu, atau buah yang dikupas – seperti mangga, nanas-.
Makan buah dalam bentuk buah asli, berarti membiarkan alam yang mengolahnya langsung. Tumbuh dari tanah, akarnya menyerap makanan dari bumi, disinari matahari, disiram air hujan.
Ya. Makanan murni, tanpa diolah dan diolah lagi oleh manusia. Konon, menjadi asupan menyehatkan.
-0-
Alam Indonesia yang kaya raya, aneka buah dan sayur dengan mudah tumbuh berkembang. Ternyata, tidak dimbangi dengan gaya hidup masyarakat.
Badan Penelitian dan Pengembangan kesehatan (Balitbangkes) Kementrian Kesehatan, mengeluarkan data survey tentang diet total untuk seluruh Indonesia. 
Hasilnya 93,5% penduduk kurang konsumsi sayur dan buah, padahal buah dan sayur, makanan kaya kandungan nutrisi.  
Dalam buah, terdapat vitamin, mineral, asam folat, zinc, magnesium, kalium, potasium. Kandungan serat buah-buahan, sangat bermanfaat, untuk pencernaan dan melancarkan BAB (buang air besar).
Rekomendasi dari USDA's Food Guide Pyramid,  sebaiknya mengonsumsi buah dua sampai empat porsi per-hari.
-0- 
 aneka buah Sunpride
PT Sewu Segar Nusantara (SSN), terkenal dengan brand Sunpride, cukup peduli dengan upaya peningkatan konsumsi buah.
Tak sekedar mengajak konsumsi buah saja, tetapi juga gencar menyosialisasikan, gerakan 100%  Cinta buah lokal—keren kan.
Mencintai sekaligus konsumsi buah lokal, akan mempunyai efek domino positif. Selain menyehatkan badan, juga menerbitkan senyum di bibir petaninya.
Bayangkan, kalau seperempat jumlah penduduk Indonesia. Setiap hari, membeli dan mengonsumsi buah lokal.
Betapa banyak kebutuhan buah, permintaan akan mengalami peningkatan signifikan. Saya yakin, kesejahteraan hidup petani akan meningkat. Bisa-bisa, pekerjaan sebagai petani buah, menjadi profesi paling diidamkan—amin.
SSN, selain memiliki lahan ribuan hektare, untuk perkebunan buah. Juga, menerapkan sistem partnership.
Bekerjasama dengan petani lokal, dalam pengendalian kualitas buah yang ketat, sekaligus dapat diandalkan,, lebih dari seribu petani lokal.
Saya sempat berkunjung, ke kebun melon di Serang Banten. Petani melon, dibina dengan pengetahuan memadai, tentang pembibitan, pemeliharaan sampai masa panen. Sehingga, sebuah tanaman, bisa menghasilkan buah berkualitas premium.
So, kalau konsumen, mendapati penampakan buah Sunpride sangat perfect. Anda, perlu mencari tahu proses panjang dibaliknya. Setiap tahap, melalui proses quality control yang ketat.
Sunpride, sangat memperhatikan, penampilan tampak dan tidak tampak. Kalau penampilan tampak, bisa ditilik dari bentuk dan warna buah. Sementara yang tidak tampak, diukur dari tekstur daging dan tingkat kemanisan buah.
Makanya, saya tidak ragu berujar, BUAH PASTI SUNPRIDE !