Minggu, 25 Januari 2015

Perempuan Tiga jaman & Cita-cita


Ibu (dokpri)

P
erempuan sepuh itu rela berlama, duduk tanpa selonjoran di kursi Bis antar kota. Waktu tempuh terbilang tak sebentar, melintasi provinsi sampai pinggiran Ibu Kota. Semangatnya bagai bara, tak sebanding daya tahan tubuhnya. Demi melunasi setangkup rindu, mengusap wajah cucu yang dikageni. Kalaupun dilarang bepergian, dibantahnya tak kuasa memendam rindu.  "Le...ibu sebentar lagi sampai lebak bulus" suara berbaut lelah terdengar di ujung telepon
              "enggih buk,... saya jemput" jawab Hanafi bersemangat.
            Menjadi kebiasaan secara berkala, ayah dan ibu menyambangi empat anaknya. Tersebar di kota Pulau Jawa, Surabaya, Purwokerto, Sukabumi, dan Tangerang Selatan. Dua  anak lainnya memilih tinggal, bersama ibu di kampung halaman. Kini setelah ayahanda berpulang, tradisi berkunjung diteruskan ibunda sendiri.
            "kalau kangen cucu.... kami saja datang," ujar almarhum ayah kala itu "kami yang punya waktu longgar" lanjutnya menegaskan.
            Ayahanda pensiunan PNS, semasa muda ibu berjualan di pasar desa. Keengganan merepoti anak anak, menjadi alasan keduanya berkunjung rutin"sekalian jalan jalan, biar tahu mana mana" ibu menimpali. Kami anaknya tak punya lagi alasan untuk melarang
            Tubuh renta keluar dari dalam bus, langkah tertatih usai ber-rute panjang. Berhamburan cucu dan anak, menyambut perempuan sepuh yang disayangi. Bersama Taxi pesanan menunggu, segera melaju ke tempat tujuan.
            Kebiasaan selanjutnya sudahlah dihapal, sesampai rumah mandi air hangat, sarapan, kemudian tidur kecapekan. Bangun sebentar sholat sekalian makan siang, menuntaskan lelap yang tak didapat di perjalanan.
******
Ibu, Aku dan Cucunya
            Malam datang lelah di tubuh hilang, dari tempat bekerja Hanafi pulang. Menjadi saat berbagi cerita, apa yang tengah terjadi dikampung halaman. Sebagai bungsu Hanafi paling dekat, mampu meraih hati ibunya. Rutin menelepon berbagi kisah, tak lupa mengirim jatah bulanan bukti perhatian.
            Usai isya tertunaikan, si cucu jagoan belajar bersama istri. Adiknya belum sekolah nimbrung, membuka buku mengekor gaya kakaknya. Hanafi dan ibu di serambi depan, merajut kebersamaan setelah lama tak bersua.
            Mendengar cucu berhitung menghapal pelajaran, mata ibu menerawang,"Dulu, mbahmu gak setuju ibu neruskan sekolah" ibu mulai berkisah "Bocah wedok (perempuan) buat apa sekolah tinggi" ibu menirukan "padahal ibu penginnn banget"
            Hanafi menyimak tanpa menyela, membayang wajah kakek sempat dijumpa. Cerita belum terselesaikan, banyak kalimat hendak ditumpahkan. Cita cita guru, adalah profesi idamkan sedari kecil. Baginya sosok guru teramat mulia, menyebar ilmu pada muridnya. Mengantar keberhasilan anak didik, tanpa berharap imbalan. Kandasnya asa saat itu membuatnya terpuruk, sikap berserah pasrah adalah pilihan ditengah tidak adanya pilihan.
            Buah jatuh tak jauh dari pohon, sikap mbah menurun pada ibu. Kemauannya sangat keras, untung diterapkan pada tempat yang pas. Keinginan bersekolah tinggi, diestafetkan pada anak anaknya. Enam buah hati disemangati, menyelesaikan kuliah demi masa depan.
            Sesekali disela obrolan yang gayeng, si kecil muncul kemudian lari. Melanjutkan coret mencoret kertas, duduk di sebelah kakaknya.
.           "ibu dulu kerjaannya ke sawah, dapat tugas jaga burung....biar gak makan padi." Seulas senyum membayangkan masa kecil "momong adik adik, mbantu mbahmu wedok nyapu, masak, pokoknya semua" terdengar nada perih, "makanya abis nikah sama bapakmu, ibu pengin semua anakku bisa sekolah tinggi" terdengar jelas getaran semangat.
            Ibu adalah sulung lulusan SD, tiga adik perempuan lulus SMP, dua adik lelaki lulus SMA. Selang dua tahun setelah tamat, seorang lelaki muda datang melamar. Guru matematika sejak kelas lima sampai lulus, menyuntingnya sebagai istri. Bak gayung bersambut, dua tangan terbuka menyambut sang jejaka. Seakan menebus lenyapnya harapan, setidaknya memiliki suami seorang guru.
            Masih terekam jelas di sudut benak, Hanafi kecil menjadi saksi perjuangan. Masa enam bersaudara bersekolah, sulung dan adiknya kuliah. Anak ketiga SMA. Menyusul anak keempat dan kelima SMP, Hanafi bungsu kelas lima SD.  Saat tahun ajaran baru tiba, biaya sekolah mendadak membengkak. Semua anak berubah kelas, beberapa pindah tingkat sekolah. anak ketiga mendaftar kuliah, adik persis dibawahnya masuk SMA. Uang pendaftaran, uang pangkal, seragam, buku, dan aneka biaya lain, menjadi pengeluaran besar tak terduga.
            Pagi belum terlalu sempurna, seorang pedagang sayur mengabarkan. Ketika melewati jalanan dekat sawah, mendapati ibu terpleset saat menyebrang parit. Ibu sendiri tak pernah mengaku, namun darah di tumit kanan tak bisa disembunyikan. Konon ibu bingung mencari pinjaman uang, hujan semalam jalanan tanah licin. Agar tak terlalu jauh memutar, diambil jalan pintas melalui kebun. Untung tak bisa diraih malang tak bisa dihindar, saat melompat tanah gembur tak kuasa menopang. Alhasil telapak kaki kanan meleset, disambut pecahan gelas yang terbenam dilumpur dangkal.
            "Pokoknya kalian harus sekolah tinggi" tekadnya tergambar. "bagaimanapun caranya bapak dan ibu akan usahakan"
            Tak semua anak menyambut keinginan, tiga anak lulus S1, satu anak berijazah D3, dua anak  memilih sampai SMA.  Hanafi sendiri diwisuda S1, kala itu memilih kuliah sambil bekerja. Melihat perjuangan ibu dan ayah, menumbuhkan rasa tak tega mendalam. Biaya kuliah ditanggung sendiri, tak membebani pikiran kedua orangtua.
******

Ibu saat di Jeddah (dokpri)

            Asam pahit kehidupan telah dilalui, ibu perempuan sederhana tiga jaman. Perjuangan membesarkan anak dilampaui, menerima persembahan cucu dari enam anaknya. Sebagai orang dusun tak kenal ilmu parenting, anak tumbuh tanpa teori pengasuhan. Ada anak yang perhatian, ada yang biasa saja bahkan ada yang abai.
Setiap menceritakan kepedihan bahkan sampai masa tua. Ibu menghela nafas panjang, melenguh seolah mencampakkan derita.
             "diikhlaskan saja buk.....semua yang ibu jalani pasti akan menjadi perhitungan" Hanafi memberi masukan. "Bahkan sempat Ibu menginjak tanah suci, itu balasan dari kesabaran selama ini"
            Wajah ibu menjelma berbinar, ketika pengalaman berhaji diungkit. Memori terindah tak terlupa, menjadi pengalaman luar biasa sepanjang hidupnya. Ibu gemar curhat dengan Hanafi, tak jarang mendapati pencerahan
            "iya ya..Han....sampai sekarang rasanya tak percaya" Ibu tersenyum "aku ini siapa....kok bisa shalat di depan Kabah"
            "Insyaallah itu ganjaran atas pengorbanan ibu selama ini" Hanafi menegaskan.
            Meskipun Hanafi Ragil, pengalaman hidup tak kalah dengan lima kakaknya.  Setelah lulus SMA berusaha hidup mandiri, tak mau merepoti ayah ibunya. Sedikit gaji disimpan, untuk bayar kuliah, kost bulanan bahkan bisa membeli motor. Belum sampai lunas cicilan, roda dua hartanya digasak pencuri keparat.  Kepedihan yang dialami menumbuhkan sikap, perhatian lebih dan empati kepada orang tua.
            "Bu sudah malam... monggo istirahat" ajak Hanafi "besok hari sabtu, kita jalan jalan".
            Jagoan yang selesai belajar berhambur ke teras, menyusul adiknya di belakang. Berdua mendengar ucapan ayahnya, memastikan tujuan bepergian. "horeee..besok kemana ayah" bibir gadis mungil itu bertanya.
            "ada dehhh....setelah kakak pulang sekolah, insyaAllah kita berangkat"Hanafi berahasia.
            Malam mulai meninggi bintang berkelip, memberi cahaya membelah gelap