Selasa, 29 Juli 2014

Secangkir Tarapuccino Pemantik Penasaran (Resensi Novel)



Judul Novel        : A Cup of Tarapuccino
Secangkir Cinta, Rindu dan Harapan
Penulis                 : Riawani Elyta, Rika Y. sari
Penerbit              : Indiva

Bermula dari sebuah kuis di twiter memunculkan akun  saya @agunghandoyo sebagai  satu diantara dua pemenang yang berhak mendapat sebuah buku dari akun @sayapsakinah. Saya pribadi penyuka buku sejak lama, koleksi buku saya lumayan beragam di dominasi novel dan aneka fiksi lainnya. seminggu sejak pengumuman sebuah paket datang diantar Pak Pos dari penerbit Indiva, adalah sebuah novel berjudul “A Cup of Tarapuccino- secangkir cinta rindu dan harapan”, seolah ingin menyenangkan pihak pengirim saya ingin melahap isi novel ini segera setelah menyesaikan buku yang sedang saya baca. Selanjutnya mempersembahkan resensi ini (semoga berkenan)
Sengaja saya merubah pola baca saya yaitu langsung membuka halaman demi halaman dari awal tanpa membaca sinopsis  yang  ada di cover belakang. melihat judulnya saya menyimpulkan isi bukunya tetang percintaan, namun dari design cover termasuk pemilihan warna yang cenderung warna tua terbetik pertanyaan apa ada hubungannya dengan kisah detiktif ?

Tokoh

Tara, Raffi, Hazel adalah central dari sekian tokoh yang hadir dalam cerita menarik ini. masing masing memilik karakter yang kuat ketiganya memiliki latar belakang pegangan religius yang bagus untuk patokan anak muda jaman sekarang. Tara yang sepupu Raffi adalah partner yang mengelola bread time di kota Batam berdua tipe pegusaha muda yang paham aturan agama, makanan atau tepatnya bahan makanan mana yang halal yang subhat atau yang haram sangat dicermati, maka apabila ada kandungan dalam bahan baku dalam produk rotinya diindikasi tak halal bagi Tara dan Raffi keadaan tidak bisa ditolerir, sikap inilah yang menjadi pangkal masalah hingga cerita ini berkembang sedemikian menarik.
Hazel adalah sosok muda yang kreatif dan gesit, dengan latar belakang keluarga yang kurang harmonis ternyata justru membentuknya menjadi pribadi yang tangguh, perpisahan kedua orang tua kandungnya kemudian menjadi bagian dari keluarga baru sang ayah adalah bukan hal mudah. Ibu tiri yang baik hati jauh dari yang digambarkan di sinetron tv membuat Hazel merelakan diri menjadi kakak (tiri) yang baik untuk ketiga adik dari perkawinan kedua sang ayah.
 
Jalan cerita

Cerita dimulai dari masa sekarang Hazel yang mempunyai usaha kuliner kedatangan tamu Tara yang ternyata pernah punya cerita di masa lalunya. Alur di buat mundur kebelakang pada akhirnya menjadi pembaca mafhum Hazel menjadi usahawan seperti sekarang. Semasa kuliah Hazel yang aktif di banyak kegiatan termasuk Rohis kampus harus pontang panting meneruskan kuliah sambil bekerja sana sini, ayahnya yang berpulang meninggalkan tanggung jawab yang berat, ibu tiri dan ketiga adiknya menyandarkan nasib di pundak Hazel selain itu warisan sang ayah yang sangat membebani adalah hutang bernilai besar dari rentenir yang semakin hari angkanya membengkak karena bertumbuh bunga.
Dalam hal asmara Hazel masuk kategori ikhwan yang kokoh memegang prinsip tak mau pacaran, adalah Rheina teman sekampus yang bermaksud memperkenalkan Hazel dengan seorang gadis yang sejalan dengan pikiran mahasiswa sederhana ini yaitu seorang akhwat. Perkenalan dengan sang akhwat terpaksa gagal dan Hazel keburu Drop Out (do) dari kampus akibat focus pada pekerjaan karena kekurangan biaya. Masa berganti Hazel menjadi pengunjung setia di Bread time, kehadirannya rutin setiap pagi di kursi sudut membuat Tara sang owner cukup terusik dengan kehadiran pelanggan satu ini. perubahan mimik dan cara bicara keteika menyebut nama lelaki satu itu diendus Raffi, bermula saat peluncuran mini magazine hendak mengundang pelanggan setia ini. mini magazine ternyata menjadi pintu masuk bagi Hazel bergabung di dalam bread time keahlian fotografi, design dan layout sejalan dengan kebutuhan tenaga di breadtime.
Meski hubungan Tara dan Hazel masih terjaga secara profesional, tetap saja getaran dawai halus di relung hati masing masing tak bisa dihindarkan. Tara tetapsaja getaran dawai halus di relung hati masing masing tak bisa dihindarkan. Tara tetap menjaga intensitas pertemuan dengan cara sms bahkan dengan menulis di kertas roti perihal ide tentang isi mini magazine yang akan terbit, tapi tetap saja Raffi menangkap kejanggalan itu.
Temuan tentang kandungan zat haram dalam bahan pembuatan roti di breadtime mengusik hati Tara dan Raffi setelah meeting dengan bulat menghentikan suplay dari Calvin & co sebagai pemasok bahan di Bread time, sikap keukeuh dari Tara dan Raffi pada pendiriannya berbuah serangan dari Calvin & Co, bermula dari hal yang terkesan di luar masalah, mobil pengantar dari toko meubel yang hendak mengantar kursi dan meja pesanan Tara ditabrak lorri pada perjalanan ke Ruko tempat breadtime hingga puncaknya kotak snack yang dipesan PT Blitz menjadi petaka, orang yang makan isi kotak itu keracunan dan harus masuk rumah sakit, tak berhenti disitu kabar cepat menyebar hingga masuk media lokal. Reputasi Breadtime menjadi terpuruk.
Bumbu cerita

Kisah asmara yang disajikan kedua penulis, sangat rapi tidak vulgar dan terkesan dewasa, bahwa jodoh sudah ada yang menakdirkan adalah sebuah keniscayaan. Tara yang mendebat Raffi saat menjatuhkan Hazel memang tak bisa dijelaskan dengan sekedar logika, bahwa Hazel berbohong saat mengakui tuduhan Raffi dan Tara tahu itu kebohongan benar benar menjadi wilayah insting dan rasa. Rangkaian pengelolaan bisnis bread time dan perdagangan illegal menjadi cerita yang saling menguatkan, rasa sakit hati partner seolah menjadi tema central novel kemudian dibungkus dengan kisah rindu dan harapan. Setelah semua reda tak disangka muncul kembali teman semasa kuliah Rheina yang dulu hendak memperkenalkan Hazel dengan teman akhwatnya ternyata  tak lain adalah Tara.
Ending cerita dibuat menggantung sehingga pembaca dipersilakan meneruskan sendiri, saya yang semula berharap pertemuan Hazel dengan Tara di restaurant tepi laut berakhir dengan sebuah lamaran, ternyata tak ada kalimat itu sampai di lembar terakhir buku ini. pun bagaimana dengan reaksi Rafii apakah membalas ketertarikan Rheina padanya juga tak dijelaskan.
Hanya satu yang saya sempat mengusik pertanyaan kenapa nama Ahmadiaz Syah Reza harus dipanggil Hazel, kemudian basic agama Diaz alias Hazel yang terbilang lumayan kenapa tak sejalan dengan keputusannya menjadi bagian dari komplotan penyelundup.
Selebihnya novel ini sukses membuat saya sebagai pembaca tak bisa menebak endingnya, dan membuat saya sebagai pembaca enggan meletakkan novel ini sebelum tamat sampai tulisan terakhir. Sukses untuk Riawani Elyta dan Rika Y sari, semoga terus memperkaya khasanah perbukuan di Indonesia, terimakasih juga buat Penerbit Indiva.

Saatnya Melepas Jilbab


Ramadahan masihlah lekat di benak, semua pernik dan suasana belum sepenuhnya luntur, syawal baru saja memasuki hari kedua. Mudik bersilaturahmi masih menjadi agenda mayoritas penduduk muslim di negri tercinta.  mercon kembang api masih terdengar di sana sini, kue lebaran konsisten di meja tamu terjajar rapi. Baju koko kopyah kerudung dan gamis menjadi busana paling trendi, hampir seluruh saluran televisi tak ketinggalan berlomba menanyangkan hiburan segar ringan merebut perhatian pemirsa. Nuansa tradisi ramadhan dan lebaran yang terjadi rutin setiap tahun memang tak akan membosankan selalu mengundang rasa kangen bagi perantau untuk segera mudik ke kampung halaman pun peluang para produsen mereguk untung besar . Setiap kita menampilkan senyum terbaik dan penampilan ter-elegan membuat suasana hangat persaudaraan dan pertemanan yang lama tak tersambung kembali erat.
Mencermati beberapa acara televisi belakangan ini memang membuat mengelus dada, memang ada acara inspiratif bermuatan positif namun sedikit sekali jumlahnya di banding acara yang sekedar hura hura minim muatan kecuali ke-mudhorot-an. Bagi kaum terpelajar akan pandai memfilter informasi dan tayangan mana yang berguna dan mana yang pantas ditinggalkan, tetapi bagi sebagian besar masyarakat yang belum sepenuhnya “melek” dan membeda mana tayangan bermutu atau tidak hanya akan semata mengedepankan seru, lucu, dan ramainya sebuah program tayangan. Sehari setelah Ramadhan acara seperti penghafalan al Qur’an oleh adik adik kecil sudah hilang, acara dakwah tausiyah dan kompetisi dai muda sudah tenggelam berganti dan berhenti, acara lama“balik kucing” seperti bulan sebelumnya.
Para artis baik pria atau wanita seolah kembali ke “habitatnya”, jilbab dan baju longar sudah tak lagi menghias penampilannya para artis pria sama tiada beda ucapan dan tingkah lakunya berbalik seratus delapan puluh derajat tak lagi seperti saat bulan puasa. Mungkin di sejumlah acara belum terlalu lepas dari ingatan pemirsa seorang artis pria pun wanita meleleh air bening dari sudut pelupuk mata ketika memandu acara islami selama Ramadhan, mereka  sedang mendengar lebih tepatnya menyimak tausiyah dari ustad ternama, perihal introspeksi diri, bermuhasabah diri. Para pemirsa tersihir berdecak kagum akan kesadaran atau pencerahan keimanan yang ditampilkan dari wajah tampan dan cantik artis di layar kaca. Kalimat dan hadist yang disampaikan sang penceramah (terkesan) mengena di hati sang artis, mimik menawannya di zoom kamera tampak jelas begitu menghayati, bola matanya berubah memerah bibirnya bergetar menahan sedih, semoga begitulah yang ada di hati atau sekedar acting tak ada yang bisa menerka kecuali sang artis sendiri.
 Belum genap satu jari tangan meghitung bilangan hari, sebuah acara non religi menampilkan artis yang sama, dandanan dan gayanya sudah jauh berbeda, baju longgar yang membungkus tubuh entah kemana berganti baju sekedarnya, jilbab rapi penutup rambut sepanjang dada sudah berganti cat rambut aneka warna, pun dengan artis pria kalimat yang keluar dari mulutnya kembali berupa lontaran ejek dan canda tak bermakna.
Ah dunia sebegitu indah, menarik dan menggodanya, hitam di atas putih kontrak bernilai menggiurkan lebih memikat, yang terjadi nanti biarlah nanti toh jarak dan waktu masih jauh dari kampung akhirat. Acara televisi kembali di dominasi acara sekedar tontonan tanpa tuntunan, lelahan dan isakkan sesenggukan artis di masa ramadhan berganti cekikian, celetukkan bebas lepas tak bermakna. Jilbab dan kopyah kembali di tanggalkan, gesture tubuh yang terjaga berganti jogetan beriring tawa.
Inikah budaya para pesohor wabilkhusus pelaku di dunia hiburan dituntut harus segesit moment dan nuansa pasar agar tetap eksis dan laku, wajah cantik dan ganteng bertahan lama di layar kaca? (wallahu a’lam)

Minggu, 20 Juli 2014

Lingkar dalam "bahaya" (resensi novel)


Judul Buku      : Lingkar
Penulis             : Kiki Raihan
Penerbit           : Rak Buku
Th Cetak         : 2013

Sebuah acara bedah buku di Gramedia Margonda Depok pada pertengahan July 2014, membuat saya penasaran untuk merapat dan bergabung di dalamnya. Novel baru dari penulis  Kiki Raihan akhirnya ada digenggaman setelah saya mengajukan sebuah pertanyaan tepatnya rasa penasaran pada sesi tanya jawab. Buku yang menjadi sulung bagi penulis ini sungguh tak dinyana kehadirannya, menawarkan sudut pandang cerita yang berbeda dengan kebanyakan novel (sejauh yang saya baca) yang ada di toko buku .
Strategi yang cerdas dan sangat efektif untuk mengupas tuntas karakter demi karakter setiap tokoh sehingga pembaca menjadi “ngeh” latar belakang setiap tokoh yang berdampak pada cara bicara, cara bersikap dan cara mengambil keputusan. Saya yang di awal membaca sempat mengutuki tokoh Jana yang tak membela diri ketika Patra suaminya membabi buta menuduh dan menceraikan akhirnya cukup memaklumi ketika sampai halaman yang mengulas tokoh Sekar ( ibu dari Jana) mulai diulas tuntas tentang cara mendidik Jana kecil.  
Model bertutur seperti dalam novel Lingkar ini pernah saya baca dalam novel Para Priyayi karya (alm) Umar kayam cetakan ke dua tahun 1992. Novel pak Kayam ini bertengger di deretan buku laris saat itu sampai dibuat versi sinetron,  selalu saya kehabisan di rak toko buku sampai harus mencari di toko buku pinggiran jalan di Surabaya, mas penjaga dengan telaten mengais di gudang dan tersisa satu buku dengan kondisi memprihatinkan. Namun kegirangan hati saya menutupi kondisi cover buku yang sudah jamuran itu, alhasil saya sudah tak menghitung  berapa kali saya mengkhatamkannya.

Sebuah Nilai
Pesan yang dibawa dari sebuah tulisan akan terus melekat di benak ketika ada nilai yang disampaikan. Kiki Raihan berhasil menyampaikan pesan itu dengan sangat piawai merangkai kalimat sehingga enak dibaca dan sangat “nyastra”. Saya pribadi terpana dengan kalimat “Jatuh Suka” yang dipakai saat bang Patra menjumpa Jana. Pun krama inggil yang dipakai Sekar saat bicara dengan Romo sungguh bahasa krama inggil khas priyayi Jawa, saya pribadi terbiasa bicara dengan krama inggil ibu di rumah dan orang yang lebih tua di kampung halaman, tapi tingkatan bahasa yang dipakai tokoh Sekar lebih dari yang dipakai masyarakat biasa dalam keseharian. Meskipun saya kurang yakin apakah penulis bisa berbahasa jawa, tapi saya cukup menaruh hormat dan respek kepada penulis yang luar biasa mampu menghadirkan karakter tokoh ibu priyayi ini dengan sangat kuat.
Jalinan cerita sangat membumi dan masing masing karakter mendapat posrsi yang pas sehingga benang merah cerita hidup dan mengalir sangat alami sehingga pembaca mendapat suguhan cerita yang sangat logis.
Kebersinambungan hubungan antar manusia memang terjadi dalam kehidupan ini dan saya sangat sepakati, istilah karma adalah sebuah keniscayan karena sekecil apapun yang diperbuat efeknya (entah baik atau buruk) akan kembali pada yang berbuat. Meyakinkan bahwa miniatur kehidupan di akhirat itu sebenarnya terjadi di dunia, seperti janji Tuhan, “bahkan kebaikan sekecil biji sawipun tak akan luput dari perhitungan”.
Satu yang saya merasa kurang adalah tidak ada bab khusus tentang Bimo (kakak Jana), keputusan untuk tidak menikah tentu sangat menarik untuk diulas. Lelaki keturunan priyayi dengan masa depan yang menjanjikan tentu tidak mudah dan kerepotan untuk menolak ditaksir gadis, dan pasti Sekar sang ibu tak akan tinggal diam membiarkan anak lelaki sulungnya memilih menjadi bujang apalagi sampai menjadi bujang lapuk. Belum lagi sanak kerabat jauh (biasanya) akan menyediakan anak gadisnya bersanding dengan Bimo, agar mengalir darah priyayi dalam tubuh anak keturunannya.

Lingkar dalam “Bahaya”
            Saya berharap bagi pembaca buku penggila buku bagus tak ketinggalan,  bersegera berburu novel yang sangat rekomended ini, dan penerbit Rak Buku harus waspada dalam “bahaya” kalau sampai stock buku ini berulang habis di toko buku sebelum siap naik cetak.
Selamat buat Kiki Raihan atas kelahiran novel perdana dan ditunggu buku berikutnya, atau jangan jangan novel ini sudah dipersiapkan lanjutannya. Terus berkarya dan menghasilkan buku sebagus novel lingkar bahkan lebih. Salam Sukses.