Senin, 12 Mei 2014

Emas Tetaplah Emas Meski Keluar dari Comberan (resensi novel Bunda Lisa)


Judul Novel                          : Bunda Lisa  
                                              - Samudra dan Angkasa yang Bernyanyi Memeluk Mimpi-
Penulis                                 ; Jombang Santani Khairen
Penerbit                               : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                               : Februari 2014
  
          Pertama membaca judul novel Bunda Lisa - Samudra dan Angkasa yang Bernyanyi Memeluk Mimpi- saya masih menyimpan tanda tanya tentang tokoh dalam novel ini, kemudian saya membaca satu persatu nama nama besar mulai dari artis, pejabat, akademisi dan nama pesohor yang memberi testimony di sampul dan cover belakang  mulai terbersit rasa penasaran. 

Terus terang masih asing nama Bunda Lisa bagi saya, namun dari deretan testimony menuntun tangan saya membuka dan membaca  lembar demi lembar halaman novel ini.

Kamis, 01 Mei 2014

Lentera di Pelosok Desa (brondong jagung)

Tak semua anak muda bersedia hidup di pelosok desa jauh dari keramaian, namun hal itu tak berlaku bagi Jarno lelaki 39 th. Ketika sebagian besar  para lulusan SMA  merantau ke kota besar lelaki murah senyum ini memilih bekerja di tanah kelahirannya Tulungagung Jawa Timur. Pada tahun 1992 Jarno muda bekerja di sebuah pabrik makanan ringan yang memproduksi brondong jagung dan Jipang, siapa sangka langkah yang diambil ini menjadi cikal bakal keberhasilannya dikemudian hari. Selama 18 tahun bekerja dipelajari seluk beluk dunia makanan ringan mulai dari pembelian bahan produksi sampai pemasaran. Tepat di tahun 2008 lelaki beranak satu ini berhenti dari tempat bekerja, mulai merintis usahanya di desa kecil tempat kelahiran istrinya tepatnya di desa Panekan kab Magetan.
Jagung  sebagai bahan baku pembuatan brondong sangat mudah didapat di daerah Jawa Timur, sementara beras sebagai bahan jipang juga sangat mudah didapat  Makanan ringan yang di bandrol dengan Rp 500,- perbungkus ini dirintis dari sebuah dapur kecil di rumahnya, bersama istrinya. Jarno memproduksi sekaligus memasarkan sendiri. Pola kerja yang diterapkan sehari produksi sehari memasarkan, segala peluh dan rintangan dijalani dengan ketekunan. modal awal  tabungan sebesar Rp 2 juta dibumbui semangat pantang menyerah perlahan tapi pasti masa sulit sampai juga di ujung.
Segala situasi dilalui pasangan suami istri ini, menghadapi ulah agen atau reseller  yang bermacam sifat. Sistem titip barang bayar belakang dimanfaatkan reseller “nakal” untuk mengelak membayar padahal brondong jagung dan bipang sudah laku. Alasan yang dikemukakanpun bervariasi, yang jamak didengar uangnya habis sudah dipakai untuk kulakan. Alhasil yang diterima hanya janji akan dibayar besok yang dijadikan “jurus andalan” reseller nakal, harapan tinggal harapan tagihan tetap tak dibayar sesuai janji. Tampak senyum getir yang terbersit ketika Jarno bercerita tentang suka duka yang dialami.
Banyaknya makanan sejenis yang beredar di pasaran menuntut Jarno dan istri memutar otak, dipilih jagung dan beras kualitas memadai sehingga menghasilkan brondong dan jipang yang enak, kemudian kemasan diperhatikan agar tidak cepat mlempem. System pemasaranpun dirubah menjadi beli putus, istilahnya “ada uang ada barang”, untuk memancing semangat agen belanja disediakan hadiah berupa gelas atau piring untuk pembelanjaan kelipatan tertentu.

Hasil dari ketekunan dan mencermati mekanisme pasar pada tahun 2010 usaha Jarno mulai berkembang. Usaha rumahan yang dimulai dari dapur kecilnya kini sudah bisa pindah ke tempat yang lebih memadai, ia mampu beli sebuah rumah sebagai pusat usaha brondong jagung dan jipang.
Dengan system swakarya 12 tenaga ibu-ibu tetangga difungsikan di bagian pengemasan dan 6 anak muda di bagian produksi dibantu 10 tenaga pemasaran. Kini produk buatannya merambah pasar di Panekan sendiri, Magetan, Plaosan, Ngawi, bahkan sampai Cepu Jawa tengah. Meskipun sudah mulai berkembang dan memiliki karyawan, lelaki rendah hati ini tetap menganggap usahanya adalah usaha rumahan bukan pabrik. Efek domino yang dirasakan warga sekitar adalah ibu-ibu dan pemuda di desa Panekan bisa mendapatkan penghasilan rata rata 900 ribu/ bulan, bahkan bisa lebih apabila musim hujan tiba hal ini dikarenakan produksinya bertambah akibat naiknya permintaan.
Dari perputaran usaha makanan ringan yang dirintisnya dari Nol kini setiap bulan bisa meraup omset rata rata di atas 100 juta.
Jarno bagai lentera di desa terpencil itu,  berkat usahanya maka anak-anak muda lulusan SD, SMP tidak lagi menjadi TKW/ TKI ke Hongkong atau Arab kini memilih tinggal di Panekan, satu langkah kecil yang disertai semangat yang luar biasa ini tanpa disadari bisa menjadi penggerak roda pereknomian. Satu yang menjadi pegangan Jarno adalah sebuah hadist Khairunnas anfa uhum linnas “sebaik manusia adalah yang bermanfaat”, ditanya tentang pengembangan usahanya lelaki sederhana ini berujar “ yang ada ini saja dilakukan dengan sungguh sungguh, kalaupun akhirnya bisa berkembang itu adalah “bonus” dari Gusti Alloh”.
Apa yang dilakukan Jarno selaras dengan program dari #Dompet Dhuafa www.dompetdhuafa.org , Andai saja Jarno- jarno lain bercokol di setiap pelosok desa terpencil di negri tercinta ini, #IndonesiaMoveOn www.dompetdhuafa.org bukan lagi sekedar angan. Insyaalloh aminnn….   

Daftar Blog Saya