Senin, 12 Mei 2014

Emas Tetaplah Emas Meski Keluar dari Comberan (resensi novel Bunda Lisa)


Judul Novel                          : Bunda Lisa  
                                              - Samudra dan Angkasa yang Bernyanyi Memeluk Mimpi-
Penulis                                 ; Jombang Santani Khairen
Penerbit                               : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                               : Februari 2014
  
          Pertama membaca judul novel Bunda Lisa - Samudra dan Angkasa yang Bernyanyi Memeluk Mimpi- saya masih menyimpan tanda tanya tentang tokoh dalam novel ini, kemudian saya membaca satu persatu nama nama besar mulai dari artis, pejabat, akademisi dan nama pesohor yang memberi testimony di sampul dan cover belakang  mulai terbersit rasa penasaran. Terus terang masih asing nama Bunda Lisa bagi saya, namun dari deretan testimony menuntun tangan saya membuka dan membaca  lembar demi lembar halaman novel ini.
Belum jelas benar siapa tokoh yang akan “dikupas” pada paragraph awal, namun setelah ada kalimat “suami yang profesor” saya mulai menebak siapa  nama besar Professor yang dimaksud ini. Kemudian mencoba menghubungkan bunda Lisa dengan owner Rumah Perubahan, sambil berharap tebakan saya tidak salah.
Sebuah kalimat “dibalik lelaki sukses ada perempuan hebat dibelakangnya”, menjadi point penting dari novel ini Bunda Lisa adalah jawabannya, dikisahkan bagaimana sang suami yang hendak meneruskan study ke Illionis sebuah kota di Amerika dihadapkan pada sebuah “tembok tinggi” bahwa uang yang sudah disediakan sejumlah sembilanbelas ribu dollar ternyata kurang dari seharusnya tigapuluhdua ribu dollar. Kekurangan yang tidak sedikit ditebus dengan kegigihan Bunda Lisa yang pontang panting mencari dana untuk menutupi kekurangannya, meski semula tertatih tatih di tolak sana sini namun semangatnya mengalahkan segalanya. Tak ada jalan bertabur bunga untuk merengkuh mimpi, jalan itu dilalui Bunda Lisa dengan tegar hingga dipertemukan dengan seorang bapak Menteri yang membantu mengatasi permasalahan keuangan. Satu lagi point sebagai pembaca saya melihat sebuah kesungguhan bermimpi yang dibarengi dengan kesungguhan upaya sanggup memporakporandakan benteng  (baca; rintangan) setinggi apapun.
Sebagai penulis muda Jombang Santani Khairen pandai meramu cerita menjadi mengalir ringan dan enak dinikmati, meski alurnya dibuat maju mundur pembaca tetap bisa menikmati kisah keluarga muda yang berjuang hingga mencapai kemapanan. Cerita yang diawali dengan masa kini tentang tekad bunda Lisa mendirikan sekolah Kutilang kemudian di bab berikutnya pembaca diajak menengok ke belakang, pada fase ini pembaca diajak menyusuri latar belakang keputusan Bunda Lisa mendirikan sekolah. Akhirnya pembaca menemukan benang merah cerita secara utuh sembari menyimpulkan apa yang Bunda Lisa bersama suami capai saat ini memanglah berbanding lurus dengan perjuangannya menggapai mimpi. Saya sangat kagum dengan sikap Bunda Lisa ketika menjadikan mimpi suami adalah mimpinya juga, sehingga menjadi mimpi bersama. Pada kalimat -mimpi bersama- ini saya merasakan sebuah getaran tekad dan semangat yang menyatu sehingga tak ada lagi ego yang bercokol. Maka pengorbanan yang dipersembahkan Bunda Lisa untuk suami tercinta menjadi murni tanpa pamrih.

Pendidikan adalah kunci
Sebuah hadist ; tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, atau tuntutlah ilmu sejak buaian hingga liang lahat, dua hadist ini mengisyaratkan betapa pentingnya ilmu dalam kehidupan manusia. Kisah dalam novel ini  (menurut saya) adalah pengejawantahan hadist tersebut. Ilmu adalah pelita yang menuntun dari ketidaktahuan menuju ke pengetahuan.  Sepanjang sejarah kehidupan tokoh tokoh masa silam, mereka yang terpahat namanya adalah pribadi unggul yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai panglima.
Kemanfaatan adalah buah perpduan antara ilmu dan iman, ibarat ilmu adalah penyuluh sedangkan iman yang menyempurnakan, kepandaian akan berhenti sebagai kepandaian apabila hanya dipakai untuk kepentingan sendiri, seorang yang berilmu tapi tidak beriman cenderung memanfaatkan ilmu untuk keuntungan sendiri, bisa saja kepandaiannya untuk membohongi orang lain. Tetapi  ketika ilmunya disempurnakan dengan keimanan maka kepandaian yang dimiliki akan dibagi kepada orang lain demi kemanfaatan. Bunda Lisa adalah orang yang menerapkan kemanfaatan bagi sesama,  dengan didirikan posyandu, taman bacaan dan sekolah kutilang menjadi “kendaraan” untuk menghapus kegelisahan ketika melihat sekelilingnya anak anak kecil jauh dari pendidikan dan kesehatan. Bunda Lisa dan suaminya yang seorang Profesor bagaikan dua pijak kaki yang mengayuh menuju cita cita bersama yaitu memberi manfaat sebanyak banyaknya buat orang lain, keduanya sangat sadar pentingnya pendidikan.

Proses Panjang dan Bertoleransi
Perjalanan Bunda Lisa dan Professor sangatlah panjang dan matang karena ditempa oleh kerasnya kehidupan, berdua membangun mahligai rumah tangga dari nol, Sang suami yang sedang meniti karir sebagai dosen kemudian memilih meneruskan kuliah di Amerika tentu sebagai pilihan yang sulit.  Saya pribadi melihat justru dititik inilah ketangguhan sebagai pasangan suami istri ini teruji dan berdua mereka lulus dalam ujian itu.  Bedua bersama si kecil Jordan mengontrak ruang basement di dekat kampus adalah awal dari proses “merangkak” di negeri Paman Sam, kemudian Bunda Lisa membanting tulang sebagai baby sister berkorban untuk  suami agar bisa focus melanjutkan studi. Hingga akhirnya suami diangkat sebagai asistan dosen, otomatis pendapatan keluarga mulai meningkat, kepahitan dimasa lalu itu kini telah menjelama manis.
Kehadiran Jordan disusul adiknya Idris sebagai pelengkap kebahagiaan keluarga kecil ini. sempat membuat sedikit kaget ketika mendapati dua bersaudara ini berbeda keyakinan, saya tangkap pada saat perbincangan lewat telepon Jakarta - Selandia baru. Idris yang mengangkat telepon menyapa dengan “assalamualaikum”, kemudian sang kakak merebut telepon dan sang adik yang tidak terima membocorkan ulah sang kakak tidak ke gereja pada hari minggu. Saya  pribadi sebagai orang yang berkeluarga besar muslim, melihat keluarga Bunda Lisa adalah keluarga yang sangat terbiasa dengan perbedaan, dan memandang sebagai sebuah  keindahan. Maka ketika di sekolah Kutilang ada Laksmi yang beragama Hindu dan Christoper yang beragama Kristen mendapat kesempatan yang sama dengan Alif yang muslim untuk berdoa sebelum belajar ini adalah sebuah tindakan cerdas untuk membuka pikiran anak anak, bahwa manusia dihadirkan di dunia ini dengan memiliki perbedaan, bahwa saling bertoleransi saling menghargai dan menghormati perbedaan adalah ajaran luhur yang harus diterapkan.

Pergaulan Lintas Strata.
Seorang seperti Bunda Lisa mampu menempatkan diri di lingkungan tempatnya bergaul, saya ikut menikmati keseruan piknik ke  kota Wisata Cibubur, dengan ,mobil box terbuka Bunda Lisa sebagai sopir memimpin pasukan ibu ibu yang kangen jalan jalan. Gelak tawa dan sakit perut Bunda Lisa melepas tawa ikut saya rasakan ketika sepanjang perjalanan bu Imas dan bu Ida saling berolok olok, kedua tokoh ini hadir sangat kocak dan memiliki spontanitas yang tinggi. Ketika bu imas bilang – kalau bannya bocor biar Ida saja yang jadi serepnya- saya tak tahan menahan tawa, bahkan ketika Ida membalas- bu Imas kalau naik dibelakang kesangkut pohon- pundak saya berguncang menahan perut yang mulai sakit. saya sempat bayangkan sosok bu Imas dan Bu ida seperti komedian Nunung srimulat dan mpok Omas.
Saya yakin bunda Lisa sering mendampingi suami dalam acara bersama petinggi negeri yang sangat intelek dalam bertutur kata dan bersikap. Namun di sisi lain Bunda Lisa tanpa risih berbaur dengan ibu Imas, ibu Ida dan gengnya, meskipun secara tingkat ekonomi dan pendidikan berbeda. Sementara Professor juga terlihat tidak jaim ketika ikut menggoda bu Ida yang latah. Alangkah indahnya hidup ini apabila orang yang berpunya tak menjaga jarak bahkan merangkul orang yang berada dibawahnya, sehingga mereka bisa merasakan bahagia bersama.

Emas tetaplah Emas
      Satu keyakinan Bunda Lisa terhadap murid yang menuntut ilmu sekolah Kutilang adalah meskipun mereka dari golongan kelas bawah tetapi mereka adalah emas berlian yang belum diasah. Pendidikan adalah sarana untuk mengentaskan mereka dari lingkaran kemiskinan, niat tulus Bunda Lisa “menggali emas” tak bertepuk sebelah tangan, sang suami yang biasa dipanggil Abang sangat mendukung. Sebagai pembaca saya membayangkan wajah anak anak yang biasa bergumul dengan tumpukan sampah dan kotoran, sebenarnya mereka punya hak yang sama untuk bangkit dan lepas dari lingkungannya, masalahnya adalah tangan siapa yang bersedia menuntun mereka menyusuri lorong gelap agar sampai melihat cahaya matahari. Bunda Lisa satu diantara sedikit orang yang pasang badan untuk anak anak malang ini.
      Secara keseluruhan sebagai sebuah novel sangat inspiratif, dan menghibur namun sedikit celah yang sempat saya amati adalah interaksi Bunda Lisa dengan kalangan para perempuan sosialita atau para istri pejabat. Akan menjadi sudut yang menarik apabila ada bab yang mengulas sisi ini atau mungkin bisa diketahui bagaimana reaksi sosialita memandang pilihan Bunda Lisa yang tak mengambil jarak terhadap orang yang kurang beruntung. Terlepas dari itu saya salut dengan Jombang Santani Khairen dengan upaya dan kerja kerasnya mampu menyelesaikan novel ini sekaligus menyadarkan saya bahwa sekecil apapun kebaikan yang dibuat tak akan lepas dari perhitungan amal dari sang Mahapasti. Semoga inspirasi  ini menjadi tabungan kebaikan yang tak putus buat penulis dan semua pihak yang terlibat..aminnnn. 

Kamis, 01 Mei 2014

Lentera di Pelosok Desa (brondong jagung)

Tak semua anak muda bersedia hidup di pelosok desa jauh dari keramaian, namun hal itu tak berlaku bagi Jarno lelaki 39 th. Ketika sebagian besar  para lulusan SMA  merantau ke kota besar lelaki murah senyum ini memilih bekerja di tanah kelahirannya Tulungagung Jawa Timur. Pada tahun 1992 Jarno muda bekerja di sebuah pabrik makanan ringan yang memproduksi brondong jagung dan Jipang, siapa sangka langkah yang diambil ini menjadi cikal bakal keberhasilannya dikemudian hari. Selama 18 tahun bekerja dipelajari seluk beluk dunia makanan ringan mulai dari pembelian bahan produksi sampai pemasaran. Tepat di tahun 2008 lelaki beranak satu ini berhenti dari tempat bekerja, mulai merintis usahanya di desa kecil tempat kelahiran istrinya tepatnya di desa Panekan kab Magetan.
Jagung  sebagai bahan baku pembuatan brondong sangat mudah didapat di daerah Jawa Timur, sementara beras sebagai bahan jipang juga sangat mudah didapat  Makanan ringan yang di bandrol dengan Rp 500,- perbungkus ini dirintis dari sebuah dapur kecil di rumahnya, bersama istrinya. Jarno memproduksi sekaligus memasarkan sendiri. Pola kerja yang diterapkan sehari produksi sehari memasarkan, segala peluh dan rintangan dijalani dengan ketekunan. modal awal  tabungan sebesar Rp 2 juta dibumbui semangat pantang menyerah perlahan tapi pasti masa sulit sampai juga di ujung.
Segala situasi dilalui pasangan suami istri ini, menghadapi ulah agen atau reseller  yang bermacam sifat. Sistem titip barang bayar belakang dimanfaatkan reseller “nakal” untuk mengelak membayar padahal brondong jagung dan bipang sudah laku. Alasan yang dikemukakanpun bervariasi, yang jamak didengar uangnya habis sudah dipakai untuk kulakan. Alhasil yang diterima hanya janji akan dibayar besok yang dijadikan “jurus andalan” reseller nakal, harapan tinggal harapan tagihan tetap tak dibayar sesuai janji. Tampak senyum getir yang terbersit ketika Jarno bercerita tentang suka duka yang dialami.
Banyaknya makanan sejenis yang beredar di pasaran menuntut Jarno dan istri memutar otak, dipilih jagung dan beras kualitas memadai sehingga menghasilkan brondong dan jipang yang enak, kemudian kemasan diperhatikan agar tidak cepat mlempem. System pemasaranpun dirubah menjadi beli putus, istilahnya “ada uang ada barang”, untuk memancing semangat agen belanja disediakan hadiah berupa gelas atau piring untuk pembelanjaan kelipatan tertentu.

Hasil dari ketekunan dan mencermati mekanisme pasar pada tahun 2010 usaha Jarno mulai berkembang. Usaha rumahan yang dimulai dari dapur kecilnya kini sudah bisa pindah ke tempat yang lebih memadai, ia mampu beli sebuah rumah sebagai pusat usaha brondong jagung dan jipang.
Dengan system swakarya 12 tenaga ibu-ibu tetangga difungsikan di bagian pengemasan dan 6 anak muda di bagian produksi dibantu 10 tenaga pemasaran. Kini produk buatannya merambah pasar di Panekan sendiri, Magetan, Plaosan, Ngawi, bahkan sampai Cepu Jawa tengah. Meskipun sudah mulai berkembang dan memiliki karyawan, lelaki rendah hati ini tetap menganggap usahanya adalah usaha rumahan bukan pabrik. Efek domino yang dirasakan warga sekitar adalah ibu-ibu dan pemuda di desa Panekan bisa mendapatkan penghasilan rata rata 900 ribu/ bulan, bahkan bisa lebih apabila musim hujan tiba hal ini dikarenakan produksinya bertambah akibat naiknya permintaan.
Dari perputaran usaha makanan ringan yang dirintisnya dari Nol kini setiap bulan bisa meraup omset rata rata di atas 100 juta.
Jarno bagai lentera di desa terpencil itu,  berkat usahanya maka anak-anak muda lulusan SD, SMP tidak lagi menjadi TKW/ TKI ke Hongkong atau Arab kini memilih tinggal di Panekan, satu langkah kecil yang disertai semangat yang luar biasa ini tanpa disadari bisa menjadi penggerak roda pereknomian. Satu yang menjadi pegangan Jarno adalah sebuah hadist Khairunnas anfa uhum linnas “sebaik manusia adalah yang bermanfaat”, ditanya tentang pengembangan usahanya lelaki sederhana ini berujar “ yang ada ini saja dilakukan dengan sungguh sungguh, kalaupun akhirnya bisa berkembang itu adalah “bonus” dari Gusti Alloh”.
Apa yang dilakukan Jarno selaras dengan program dari #Dompet Dhuafa www.dompetdhuafa.org , Andai saja Jarno- jarno lain bercokol di setiap pelosok desa terpencil di negri tercinta ini, #IndonesiaMoveOn www.dompetdhuafa.org bukan lagi sekedar angan. Insyaalloh aminnn….