Selasa, 29 Juli 2014

Secangkir Tarapuccino Pemantik Penasaran (Resensi Novel)



Judul Novel        : A Cup of Tarapuccino
Secangkir Cinta, Rindu dan Harapan
Penulis                 : Riawani Elyta, Rika Y. sari
Penerbit              : Indiva

Bermula dari sebuah kuis di twiter memunculkan akun  saya @agunghandoyo sebagai  satu diantara dua pemenang yang berhak mendapat sebuah buku dari akun @sayapsakinah. Saya pribadi penyuka buku sejak lama, koleksi buku saya lumayan beragam di dominasi novel dan aneka fiksi lainnya. seminggu sejak pengumuman sebuah paket datang diantar Pak Pos dari penerbit Indiva, adalah sebuah novel berjudul “A Cup of Tarapuccino- secangkir cinta rindu dan harapan”, seolah ingin menyenangkan pihak pengirim saya ingin melahap isi novel ini segera setelah menyesaikan buku yang sedang saya baca. Selanjutnya mempersembahkan resensi ini (semoga berkenan)
Sengaja saya merubah pola baca saya yaitu langsung membuka halaman demi halaman dari awal tanpa membaca sinopsis  yang  ada di cover belakang. melihat judulnya saya menyimpulkan isi bukunya tetang percintaan, namun dari design cover termasuk pemilihan warna yang cenderung warna tua terbetik pertanyaan apa ada hubungannya dengan kisah detiktif ?

Tokoh

Tara, Raffi, Hazel adalah central dari sekian tokoh yang hadir dalam cerita menarik ini. masing masing memilik karakter yang kuat ketiganya memiliki latar belakang pegangan religius yang bagus untuk patokan anak muda jaman sekarang. Tara yang sepupu Raffi adalah partner yang mengelola bread time di kota Batam berdua tipe pegusaha muda yang paham aturan agama, makanan atau tepatnya bahan makanan mana yang halal yang subhat atau yang haram sangat dicermati, maka apabila ada kandungan dalam bahan baku dalam produk rotinya diindikasi tak halal bagi Tara dan Raffi keadaan tidak bisa ditolerir, sikap inilah yang menjadi pangkal masalah hingga cerita ini berkembang sedemikian menarik.
Hazel adalah sosok muda yang kreatif dan gesit, dengan latar belakang keluarga yang kurang harmonis ternyata justru membentuknya menjadi pribadi yang tangguh, perpisahan kedua orang tua kandungnya kemudian menjadi bagian dari keluarga baru sang ayah adalah bukan hal mudah. Ibu tiri yang baik hati jauh dari yang digambarkan di sinetron tv membuat Hazel merelakan diri menjadi kakak (tiri) yang baik untuk ketiga adik dari perkawinan kedua sang ayah.
 
Jalan cerita

Cerita dimulai dari masa sekarang Hazel yang mempunyai usaha kuliner kedatangan tamu Tara yang ternyata pernah punya cerita di masa lalunya. Alur di buat mundur kebelakang pada akhirnya menjadi pembaca mafhum Hazel menjadi usahawan seperti sekarang. Semasa kuliah Hazel yang aktif di banyak kegiatan termasuk Rohis kampus harus pontang panting meneruskan kuliah sambil bekerja sana sini, ayahnya yang berpulang meninggalkan tanggung jawab yang berat, ibu tiri dan ketiga adiknya menyandarkan nasib di pundak Hazel selain itu warisan sang ayah yang sangat membebani adalah hutang bernilai besar dari rentenir yang semakin hari angkanya membengkak karena bertumbuh bunga.
Dalam hal asmara Hazel masuk kategori ikhwan yang kokoh memegang prinsip tak mau pacaran, adalah Rheina teman sekampus yang bermaksud memperkenalkan Hazel dengan seorang gadis yang sejalan dengan pikiran mahasiswa sederhana ini yaitu seorang akhwat. Perkenalan dengan sang akhwat terpaksa gagal dan Hazel keburu Drop Out (do) dari kampus akibat focus pada pekerjaan karena kekurangan biaya. Masa berganti Hazel menjadi pengunjung setia di Bread time, kehadirannya rutin setiap pagi di kursi sudut membuat Tara sang owner cukup terusik dengan kehadiran pelanggan satu ini. perubahan mimik dan cara bicara keteika menyebut nama lelaki satu itu diendus Raffi, bermula saat peluncuran mini magazine hendak mengundang pelanggan setia ini. mini magazine ternyata menjadi pintu masuk bagi Hazel bergabung di dalam bread time keahlian fotografi, design dan layout sejalan dengan kebutuhan tenaga di breadtime.
Meski hubungan Tara dan Hazel masih terjaga secara profesional, tetap saja getaran dawai halus di relung hati masing masing tak bisa dihindarkan. Tara tetapsaja getaran dawai halus di relung hati masing masing tak bisa dihindarkan. Tara tetap menjaga intensitas pertemuan dengan cara sms bahkan dengan menulis di kertas roti perihal ide tentang isi mini magazine yang akan terbit, tapi tetap saja Raffi menangkap kejanggalan itu.
Temuan tentang kandungan zat haram dalam bahan pembuatan roti di breadtime mengusik hati Tara dan Raffi setelah meeting dengan bulat menghentikan suplay dari Calvin & co sebagai pemasok bahan di Bread time, sikap keukeuh dari Tara dan Raffi pada pendiriannya berbuah serangan dari Calvin & Co, bermula dari hal yang terkesan di luar masalah, mobil pengantar dari toko meubel yang hendak mengantar kursi dan meja pesanan Tara ditabrak lorri pada perjalanan ke Ruko tempat breadtime hingga puncaknya kotak snack yang dipesan PT Blitz menjadi petaka, orang yang makan isi kotak itu keracunan dan harus masuk rumah sakit, tak berhenti disitu kabar cepat menyebar hingga masuk media lokal. Reputasi Breadtime menjadi terpuruk.
Bumbu cerita

Kisah asmara yang disajikan kedua penulis, sangat rapi tidak vulgar dan terkesan dewasa, bahwa jodoh sudah ada yang menakdirkan adalah sebuah keniscayaan. Tara yang mendebat Raffi saat menjatuhkan Hazel memang tak bisa dijelaskan dengan sekedar logika, bahwa Hazel berbohong saat mengakui tuduhan Raffi dan Tara tahu itu kebohongan benar benar menjadi wilayah insting dan rasa. Rangkaian pengelolaan bisnis bread time dan perdagangan illegal menjadi cerita yang saling menguatkan, rasa sakit hati partner seolah menjadi tema central novel kemudian dibungkus dengan kisah rindu dan harapan. Setelah semua reda tak disangka muncul kembali teman semasa kuliah Rheina yang dulu hendak memperkenalkan Hazel dengan teman akhwatnya ternyata  tak lain adalah Tara.
Ending cerita dibuat menggantung sehingga pembaca dipersilakan meneruskan sendiri, saya yang semula berharap pertemuan Hazel dengan Tara di restaurant tepi laut berakhir dengan sebuah lamaran, ternyata tak ada kalimat itu sampai di lembar terakhir buku ini. pun bagaimana dengan reaksi Rafii apakah membalas ketertarikan Rheina padanya juga tak dijelaskan.
Hanya satu yang saya sempat mengusik pertanyaan kenapa nama Ahmadiaz Syah Reza harus dipanggil Hazel, kemudian basic agama Diaz alias Hazel yang terbilang lumayan kenapa tak sejalan dengan keputusannya menjadi bagian dari komplotan penyelundup.
Selebihnya novel ini sukses membuat saya sebagai pembaca tak bisa menebak endingnya, dan membuat saya sebagai pembaca enggan meletakkan novel ini sebelum tamat sampai tulisan terakhir. Sukses untuk Riawani Elyta dan Rika Y sari, semoga terus memperkaya khasanah perbukuan di Indonesia, terimakasih juga buat Penerbit Indiva.

Minggu, 20 Juli 2014

Lingkar dalam "bahaya" (resensi novel)


Judul Buku      : Lingkar
Penulis             : Kiki Raihan
Penerbit           : Rak Buku
Th Cetak         : 2013

Sebuah acara bedah buku di Gramedia Margonda Depok pada pertengahan July 2014, membuat saya penasaran untuk merapat dan bergabung di dalamnya. Novel baru dari penulis  Kiki Raihan akhirnya ada digenggaman setelah saya mengajukan sebuah pertanyaan tepatnya rasa penasaran pada sesi tanya jawab. Buku yang menjadi sulung bagi penulis ini sungguh tak dinyana kehadirannya, menawarkan sudut pandang cerita yang berbeda dengan kebanyakan novel (sejauh yang saya baca) yang ada di toko buku .
Strategi yang cerdas dan sangat efektif untuk mengupas tuntas karakter demi karakter setiap tokoh sehingga pembaca menjadi “ngeh” latar belakang setiap tokoh yang berdampak pada cara bicara, cara bersikap dan cara mengambil keputusan. Saya yang di awal membaca sempat mengutuki tokoh Jana yang tak membela diri ketika Patra suaminya membabi buta menuduh dan menceraikan akhirnya cukup memaklumi ketika sampai halaman yang mengulas tokoh Sekar ( ibu dari Jana) mulai diulas tuntas tentang cara mendidik Jana kecil.  
Model bertutur seperti dalam novel Lingkar ini pernah saya baca dalam novel Para Priyayi karya (alm) Umar kayam cetakan ke dua tahun 1992. Novel pak Kayam ini bertengger di deretan buku laris saat itu sampai dibuat versi sinetron,  selalu saya kehabisan di rak toko buku sampai harus mencari di toko buku pinggiran jalan di Surabaya, mas penjaga dengan telaten mengais di gudang dan tersisa satu buku dengan kondisi memprihatinkan. Namun kegirangan hati saya menutupi kondisi cover buku yang sudah jamuran itu, alhasil saya sudah tak menghitung  berapa kali saya mengkhatamkannya.

Sebuah Nilai
Pesan yang dibawa dari sebuah tulisan akan terus melekat di benak ketika ada nilai yang disampaikan. Kiki Raihan berhasil menyampaikan pesan itu dengan sangat piawai merangkai kalimat sehingga enak dibaca dan sangat “nyastra”. Saya pribadi terpana dengan kalimat “Jatuh Suka” yang dipakai saat bang Patra menjumpa Jana. Pun krama inggil yang dipakai Sekar saat bicara dengan Romo sungguh bahasa krama inggil khas priyayi Jawa, saya pribadi terbiasa bicara dengan krama inggil ibu di rumah dan orang yang lebih tua di kampung halaman, tapi tingkatan bahasa yang dipakai tokoh Sekar lebih dari yang dipakai masyarakat biasa dalam keseharian. Meskipun saya kurang yakin apakah penulis bisa berbahasa jawa, tapi saya cukup menaruh hormat dan respek kepada penulis yang luar biasa mampu menghadirkan karakter tokoh ibu priyayi ini dengan sangat kuat.
Jalinan cerita sangat membumi dan masing masing karakter mendapat posrsi yang pas sehingga benang merah cerita hidup dan mengalir sangat alami sehingga pembaca mendapat suguhan cerita yang sangat logis.
Kebersinambungan hubungan antar manusia memang terjadi dalam kehidupan ini dan saya sangat sepakati, istilah karma adalah sebuah keniscayan karena sekecil apapun yang diperbuat efeknya (entah baik atau buruk) akan kembali pada yang berbuat. Meyakinkan bahwa miniatur kehidupan di akhirat itu sebenarnya terjadi di dunia, seperti janji Tuhan, “bahkan kebaikan sekecil biji sawipun tak akan luput dari perhitungan”.
Satu yang saya merasa kurang adalah tidak ada bab khusus tentang Bimo (kakak Jana), keputusan untuk tidak menikah tentu sangat menarik untuk diulas. Lelaki keturunan priyayi dengan masa depan yang menjanjikan tentu tidak mudah dan kerepotan untuk menolak ditaksir gadis, dan pasti Sekar sang ibu tak akan tinggal diam membiarkan anak lelaki sulungnya memilih menjadi bujang apalagi sampai menjadi bujang lapuk. Belum lagi sanak kerabat jauh (biasanya) akan menyediakan anak gadisnya bersanding dengan Bimo, agar mengalir darah priyayi dalam tubuh anak keturunannya.

Lingkar dalam “Bahaya”
            Saya berharap bagi pembaca buku penggila buku bagus tak ketinggalan,  bersegera berburu novel yang sangat rekomended ini, dan penerbit Rak Buku harus waspada dalam “bahaya” kalau sampai stock buku ini berulang habis di toko buku sebelum siap naik cetak.
Selamat buat Kiki Raihan atas kelahiran novel perdana dan ditunggu buku berikutnya, atau jangan jangan novel ini sudah dipersiapkan lanjutannya. Terus berkarya dan menghasilkan buku sebagus novel lingkar bahkan lebih. Salam Sukses.

Rabu, 25 Juni 2014

Takdir VS Adat (Resensi Novel Memang Jodoh)


                                          Judul Buku        : Memang Jodoh
                                          Penulis              : Marah Rusli
                                          Penerbit            : Mizan
Sebuah janin yang masih ada di rahim ibunda siap ditiupkan ruh ketika menginjak usia 4 bulan, ditetapkan baginya  rejeki, jodoh dan ajalnya. Kita masing masing manusia membawa takdir yang sudah digariskan dan pasti yang terbaik  menurut Tuhan. Pun semua peristiwa yang manusia alami tertulis di lauh mahfuds, begitulah sunatullah bekerja .
Dalam kehidupan manusia ada kebiasaan atau adat yang dijalankan secara turun menurun dan akhirnya dikukuhkan sebagai aturan baku untuk  acuan generasi setelahnya, kadang ada yang keukeuh mempertahankan adat dengan dalih warisan leluhur yang harus dijalankan tanpa berkelit. Seiring perkembangan jaman ketika arus informasi dan pengetahuan terbuka lebar di segala lini, lambat laun adat istiadat mau tak mau akan ada yang terkoreksi, kaum cendikia yang semakin kritis akan merasa gerah dengan tradisi yang dirasa “membelenggu”, novel Memang Jodoh karya Marah Rusli adalah gambaran perbenturan adat dengan idealisme seorang anak muda dalam menyikapi adat istiadat yang dipandang kurang relevan.

Pintu Gerbang itu bernama Pendidikan
Ketika Rasulullah bertafakkur di gua Hira wahyu petama yang disampakan malaikat jibril adalah “ Iqra” yang artinya baca, menjadi sebuah keniscayaan bahwa membaca akan menjadi pintu pembuka bagi ilmu pegetahuan, orang berilmulah yang akan sanggup memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik, bahkan secara tegas dalam Qur’an termaktub janji Allah akan meninggikan derajad bagi kaum yang berilmu dan beriman (Al Mujadallah - Qs 58 ; 11).
Sosok Marah Hamli adalah pemuda yang sadar dengan pentingnya pendidikan, setelah bersekolah di Sekolah Raja Buki Tinggi hendak  melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi Belanda, dukungan sang ayah yang berprofesi sebagai Hopjaksa di Medan tentu meringankan langkah untuk bersekolah setinggi tingginya. Saya kagum dengan sikap dan keputusan Marah Hamli yang pada masanya sudah menyadari arti pentingnya pendidikan.
Dengan ilmu pula tokoh Marah hamli mengetahui bahwa ridho ibu adalah soko guru dan pondasi awal bagi langkah hidupnya, maka setelah keputusan melanjutkan sekolah ke negri seberang disampaikan ke ibunda dengan segala pertimbangan sang ibu keberatan sehingga dengan penuh kesadaran dikuburlah cita citanya meneruskan sekolah ke Belanda dan diganti bersekolah di tanah Jawa tepatnya di kota Bogor.
Sungguh solusi yang sama sama menyenangkan keduabelah pihak, Siti Anjani sang ibu tidak ditinggal terlalu jauh sementara niat bersekolah tetap bisa dijalankan.

Kuat memegang Prinsip
            Keteguhan Marah Hamli pada pendiriannya untuk mempunyai satu istri, adalah sikap yang akan mendapat banyak pertentangan. Sebagai lelaki berdarah bangsawan yang mengalir di tubuhnya tak serta merta dimanfaatkan untuk memperistri banyak perempuan, meskipun dalam adat yang berlaku di negrinya (dalam cerita novel ini) seorang lelaki akan dihidupi keluarga mempelai perempuan dan menjadi tanggungan mamaknya. Hamli menolak dengan tegas keistimewaan yang dipersembahkan kepadanya, sebagai lelaki sudah seharusya memberi nafkah lahir dan batin kepada istrinya, sekaligus harus memuliakan istri sebaik baiknya.
            Sikap Hamli yang berseberangan  menuai kritik tajam dari kaum kerabat, dengan lapang dada pula Hamli menerima segala konsekwensinya bahkan siap dikucilkan dan tidak dianggap. Bahkan Marah Hamli rela tercerabut dari akarnya karena memang dengan nyata diketahui bahwa perlakuan yang  tidak adil terhadap kaum perempuan harus diputus mata rantainya.
            Setelah merantau di Jawa Marah Hamli bertemu dengan  Din Wati perempuan berdarah Sunda yang tinggal di Bogor Jawa barat, Penentangan perkawinan dua suku ini juga datang dari keluarga mempelai perempuan, namun sikap Din Wati (calon istri) tak ubahnya seperti sikap Hamli, berdua mereka pasang badan menghadapai benturan benturan dahsyat dengan sabar dan hati lapang.
Segala macam cobaan dapat dihalau sampai badai itu berlalu dengan sendirinya, termasuk ketika datang seorang utusan keluarga Hamli yang hendak menggunakan ilmu hitam untuk mengguna guna Din Wati agar stress. Cobaan tak serta merta reda bahkan setelah Hamli resmi menikahi Din Wati upaya perjodohan Hamli dengan perempuan sesuku tak lantas berhenti.
Dari pihak mamak dari garis keluarga Hamli memperkenankan anak perempuannya dijadikan istri kedua meskipun hanya dengan pernikahan sesaat setelah itu dijatuhkan talak, tujuan semula agar Hamli masih disebut patuh dengan adat.Hamli tetaplah lelaki yang menjunjung harkat perempuan, keinginan keluarga sanggup dipenuhi dengan syarat semua kondisi yang akan dialami pihak perempuan dibicarakan diawal pernikahan, jangan sampai gagasan ini hanya untuk keuntungan pihak lelaki semata sementara pihak perempuan tidak diberitahu, syarat berat ini tentu tak bisa dijalankan. Secara logika tidak ada keluarga yang mau anak perempuan diperlakukan seenaknya akhirnya ide ini lenyap begitu saja.
Sampai akhirnya upaya nekad datang dari keluarga besar Hamli dengan cara menikahkan diam diam di belakang Hamli dengan perempuan sesuku, perkawinan di Padang saat itu membolehkan sang lelaki diwakilkan lelaki lain atau sebilah keris. Pada saat Hamli sudah menjadi pegawai pertanian di Blitar tiba tiba datang surat kawat agar menjemput istrinya di stasiun, kabar menegjutkan ini membuat Din Wati berniat kembali pulang ke Bogor. Sikap Hamli sangat jelas bahwa dia tak mengamini, dibalaslah telegram itu dengan menegaskan bahwa tak pernah ada perkawinan atas dirinya dengan perempuan selain dengan Din Wati istri syahnya.

Lelaki Baik untuk Perempuan Baik
            Sebagai lulusan Sekolah tinggi Pertanian akhirnya Hamli mengabdi sebagai Pegawai pemerintahan, tugas yang diemban menuntutnya untuk berpindah pindah tempat, dari Sumbawa, Blitar, Cirebon, Jakarta, Semarang semua dijalani dengan tabah. Din Wati sebagai istri sangat setia mendampingi dan mensupport suami kapanpun dimanapun dan kemanapun,  yang unik adalah ketika Hamli menghadap kepala jawatan hendak dipindahkan ke Payakumbuh Sumatra barat dengan tegas dia menolak dan memilih melepaskan pekerjaan, pindah ke kota tersebut tak memungkinkan bisa mengajak serta anak istrinya.
Din Wati seolah tak peduli dengan garis kebangsawanan yang mengalir dalam tubuhnya, perempuan lembut dan hebat ini menerima sang suami apa adanya, bahkan ketika masa sulit dia mau berjualan demi mencukupkan kebutuhan. Demi menghemat pengeluaran rumah tangga Din Wati pula yang mengusulkan mengirim persembahan kue bolu besar yang lezat cita rasanya kepada Sultan Sumbawa yang hendak mengawinkan putrinya,  tanpa di nyana persembahannya dibalas dengan seserahan yang lebih banyak karena Sultan merasa suka hati dengan persembahan lezat dari Hamli dan keluarga       
          Layaknya perjalanan biduk rumah tangga yang tak lepas dari naik turunya badai kehidupan, justru ketidakenakkan ketidakenakkan inilah yang menguatkan hubungan Hamli dengan Din wati, perjalanan panjang sebagai suami istri yang semula ditentang keluarga besar Hamli akhirnya dapat dibuktikan mampu bertahan sampai usia emas perkawinan.

Novel Klasik
Nama besar Marah Rusli telah menjadi legenda dalam dunia satra di Indonesia, karya fenomenal Siti Nurbaya tak akan bisa dihapus dalam sejarah perjalanan kesusastraan.  Bahkan HB Yasin menyematkan gelar sebagai Bapak Roman Modern.
Saya sebagai generasi yang lahir setelah sastrawan ini meninggal cukup terkagum kagum dengan karya besar beliau, bahasa yang tertulis dalam novel setebal lebih dari 500 halaman ini membuka cakrawala tentang keindahan kosa kata pada masa itu. Pemilihan bahasa yang “nyastra” tersebar rata di setiap halaman dan cukup menanamkan banyak perbendaharaan kalimat pada pikiran saya
            Namun saya cukup mengeryitkan dahi pada bagian Siti Anjani ibunda Hamli yang baru dikabari tentang pernikahan Hamli dan Din Wati sekitar tiga tahun setelah ijab kabul, saya tidak paham kenapa sang ibu tak diberitahu sebelum pernikahan dilangsungkan apapun alasannya, kemudian perihal penyakit pilu yang mendera Hamli sebelum bertemu dengan jodohnya yaitu Din Wati berhasil membuat penasaran saya tak berkesudahan, sejenis apakah penyakit pilu itu?
            Secara keseluruhan Novel ini benar benar memberi cita rasa yang berbeda dengan sebagian besar novel yang hadir di pasaran, sangat rekomended bagi generasi masa kini agar menjadi “nutrisi” yang menyehatkan batin. Sambil berharap semoga ada “harta karun” dari sastrawan besar lainnya yang (siapa tahu) masih disimpan oleh anak keturunannya. Bravo Marah Rusli.

Senin, 12 Mei 2014

Emas Tetaplah Emas Meski Keluar dari Comberan (resensi novel Bunda Lisa)


Judul Novel                          : Bunda Lisa  
                                              - Samudra dan Angkasa yang Bernyanyi Memeluk Mimpi-
Penulis                                 ; Jombang Santani Khairen
Penerbit                               : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                               : Februari 2014
  
          Pertama membaca judul novel Bunda Lisa - Samudra dan Angkasa yang Bernyanyi Memeluk Mimpi- saya masih menyimpan tanda tanya tentang tokoh dalam novel ini, kemudian saya membaca satu persatu nama nama besar mulai dari artis, pejabat, akademisi dan nama pesohor yang memberi testimony di sampul dan cover belakang  mulai terbersit rasa penasaran. Terus terang masih asing nama Bunda Lisa bagi saya, namun dari deretan testimony menuntun tangan saya membuka dan membaca  lembar demi lembar halaman novel ini.
Belum jelas benar siapa tokoh yang akan “dikupas” pada paragraph awal, namun setelah ada kalimat “suami yang profesor” saya mulai menebak siapa  nama besar Professor yang dimaksud ini. Kemudian mencoba menghubungkan bunda Lisa dengan owner Rumah Perubahan, sambil berharap tebakan saya tidak salah.
Sebuah kalimat “dibalik lelaki sukses ada perempuan hebat dibelakangnya”, menjadi point penting dari novel ini Bunda Lisa adalah jawabannya, dikisahkan bagaimana sang suami yang hendak meneruskan study ke Illionis sebuah kota di Amerika dihadapkan pada sebuah “tembok tinggi” bahwa uang yang sudah disediakan sejumlah sembilanbelas ribu dollar ternyata kurang dari seharusnya tigapuluhdua ribu dollar. Kekurangan yang tidak sedikit ditebus dengan kegigihan Bunda Lisa yang pontang panting mencari dana untuk menutupi kekurangannya, meski semula tertatih tatih di tolak sana sini namun semangatnya mengalahkan segalanya. Tak ada jalan bertabur bunga untuk merengkuh mimpi, jalan itu dilalui Bunda Lisa dengan tegar hingga dipertemukan dengan seorang bapak Menteri yang membantu mengatasi permasalahan keuangan. Satu lagi point sebagai pembaca saya melihat sebuah kesungguhan bermimpi yang dibarengi dengan kesungguhan upaya sanggup memporakporandakan benteng  (baca; rintangan) setinggi apapun.
Sebagai penulis muda Jombang Santani Khairen pandai meramu cerita menjadi mengalir ringan dan enak dinikmati, meski alurnya dibuat maju mundur pembaca tetap bisa menikmati kisah keluarga muda yang berjuang hingga mencapai kemapanan. Cerita yang diawali dengan masa kini tentang tekad bunda Lisa mendirikan sekolah Kutilang kemudian di bab berikutnya pembaca diajak menengok ke belakang, pada fase ini pembaca diajak menyusuri latar belakang keputusan Bunda Lisa mendirikan sekolah. Akhirnya pembaca menemukan benang merah cerita secara utuh sembari menyimpulkan apa yang Bunda Lisa bersama suami capai saat ini memanglah berbanding lurus dengan perjuangannya menggapai mimpi. Saya sangat kagum dengan sikap Bunda Lisa ketika menjadikan mimpi suami adalah mimpinya juga, sehingga menjadi mimpi bersama. Pada kalimat -mimpi bersama- ini saya merasakan sebuah getaran tekad dan semangat yang menyatu sehingga tak ada lagi ego yang bercokol. Maka pengorbanan yang dipersembahkan Bunda Lisa untuk suami tercinta menjadi murni tanpa pamrih.

Pendidikan adalah kunci
Sebuah hadist ; tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, atau tuntutlah ilmu sejak buaian hingga liang lahat, dua hadist ini mengisyaratkan betapa pentingnya ilmu dalam kehidupan manusia. Kisah dalam novel ini  (menurut saya) adalah pengejawantahan hadist tersebut. Ilmu adalah pelita yang menuntun dari ketidaktahuan menuju ke pengetahuan.  Sepanjang sejarah kehidupan tokoh tokoh masa silam, mereka yang terpahat namanya adalah pribadi unggul yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai panglima.
Kemanfaatan adalah buah perpduan antara ilmu dan iman, ibarat ilmu adalah penyuluh sedangkan iman yang menyempurnakan, kepandaian akan berhenti sebagai kepandaian apabila hanya dipakai untuk kepentingan sendiri, seorang yang berilmu tapi tidak beriman cenderung memanfaatkan ilmu untuk keuntungan sendiri, bisa saja kepandaiannya untuk membohongi orang lain. Tetapi  ketika ilmunya disempurnakan dengan keimanan maka kepandaian yang dimiliki akan dibagi kepada orang lain demi kemanfaatan. Bunda Lisa adalah orang yang menerapkan kemanfaatan bagi sesama,  dengan didirikan posyandu, taman bacaan dan sekolah kutilang menjadi “kendaraan” untuk menghapus kegelisahan ketika melihat sekelilingnya anak anak kecil jauh dari pendidikan dan kesehatan. Bunda Lisa dan suaminya yang seorang Profesor bagaikan dua pijak kaki yang mengayuh menuju cita cita bersama yaitu memberi manfaat sebanyak banyaknya buat orang lain, keduanya sangat sadar pentingnya pendidikan.

Proses Panjang dan Bertoleransi
Perjalanan Bunda Lisa dan Professor sangatlah panjang dan matang karena ditempa oleh kerasnya kehidupan, berdua membangun mahligai rumah tangga dari nol, Sang suami yang sedang meniti karir sebagai dosen kemudian memilih meneruskan kuliah di Amerika tentu sebagai pilihan yang sulit.  Saya pribadi melihat justru dititik inilah ketangguhan sebagai pasangan suami istri ini teruji dan berdua mereka lulus dalam ujian itu.  Bedua bersama si kecil Jordan mengontrak ruang basement di dekat kampus adalah awal dari proses “merangkak” di negeri Paman Sam, kemudian Bunda Lisa membanting tulang sebagai baby sister berkorban untuk  suami agar bisa focus melanjutkan studi. Hingga akhirnya suami diangkat sebagai asistan dosen, otomatis pendapatan keluarga mulai meningkat, kepahitan dimasa lalu itu kini telah menjelama manis.
Kehadiran Jordan disusul adiknya Idris sebagai pelengkap kebahagiaan keluarga kecil ini. sempat membuat sedikit kaget ketika mendapati dua bersaudara ini berbeda keyakinan, saya tangkap pada saat perbincangan lewat telepon Jakarta - Selandia baru. Idris yang mengangkat telepon menyapa dengan “assalamualaikum”, kemudian sang kakak merebut telepon dan sang adik yang tidak terima membocorkan ulah sang kakak tidak ke gereja pada hari minggu. Saya  pribadi sebagai orang yang berkeluarga besar muslim, melihat keluarga Bunda Lisa adalah keluarga yang sangat terbiasa dengan perbedaan, dan memandang sebagai sebuah  keindahan. Maka ketika di sekolah Kutilang ada Laksmi yang beragama Hindu dan Christoper yang beragama Kristen mendapat kesempatan yang sama dengan Alif yang muslim untuk berdoa sebelum belajar ini adalah sebuah tindakan cerdas untuk membuka pikiran anak anak, bahwa manusia dihadirkan di dunia ini dengan memiliki perbedaan, bahwa saling bertoleransi saling menghargai dan menghormati perbedaan adalah ajaran luhur yang harus diterapkan.

Pergaulan Lintas Strata.
Seorang seperti Bunda Lisa mampu menempatkan diri di lingkungan tempatnya bergaul, saya ikut menikmati keseruan piknik ke  kota Wisata Cibubur, dengan ,mobil box terbuka Bunda Lisa sebagai sopir memimpin pasukan ibu ibu yang kangen jalan jalan. Gelak tawa dan sakit perut Bunda Lisa melepas tawa ikut saya rasakan ketika sepanjang perjalanan bu Imas dan bu Ida saling berolok olok, kedua tokoh ini hadir sangat kocak dan memiliki spontanitas yang tinggi. Ketika bu imas bilang – kalau bannya bocor biar Ida saja yang jadi serepnya- saya tak tahan menahan tawa, bahkan ketika Ida membalas- bu Imas kalau naik dibelakang kesangkut pohon- pundak saya berguncang menahan perut yang mulai sakit. saya sempat bayangkan sosok bu Imas dan Bu ida seperti komedian Nunung srimulat dan mpok Omas.
Saya yakin bunda Lisa sering mendampingi suami dalam acara bersama petinggi negeri yang sangat intelek dalam bertutur kata dan bersikap. Namun di sisi lain Bunda Lisa tanpa risih berbaur dengan ibu Imas, ibu Ida dan gengnya, meskipun secara tingkat ekonomi dan pendidikan berbeda. Sementara Professor juga terlihat tidak jaim ketika ikut menggoda bu Ida yang latah. Alangkah indahnya hidup ini apabila orang yang berpunya tak menjaga jarak bahkan merangkul orang yang berada dibawahnya, sehingga mereka bisa merasakan bahagia bersama.

Emas tetaplah Emas
      Satu keyakinan Bunda Lisa terhadap murid yang menuntut ilmu sekolah Kutilang adalah meskipun mereka dari golongan kelas bawah tetapi mereka adalah emas berlian yang belum diasah. Pendidikan adalah sarana untuk mengentaskan mereka dari lingkaran kemiskinan, niat tulus Bunda Lisa “menggali emas” tak bertepuk sebelah tangan, sang suami yang biasa dipanggil Abang sangat mendukung. Sebagai pembaca saya membayangkan wajah anak anak yang biasa bergumul dengan tumpukan sampah dan kotoran, sebenarnya mereka punya hak yang sama untuk bangkit dan lepas dari lingkungannya, masalahnya adalah tangan siapa yang bersedia menuntun mereka menyusuri lorong gelap agar sampai melihat cahaya matahari. Bunda Lisa satu diantara sedikit orang yang pasang badan untuk anak anak malang ini.
      Secara keseluruhan sebagai sebuah novel sangat inspiratif, dan menghibur namun sedikit celah yang sempat saya amati adalah interaksi Bunda Lisa dengan kalangan para perempuan sosialita atau para istri pejabat. Akan menjadi sudut yang menarik apabila ada bab yang mengulas sisi ini atau mungkin bisa diketahui bagaimana reaksi sosialita memandang pilihan Bunda Lisa yang tak mengambil jarak terhadap orang yang kurang beruntung. Terlepas dari itu saya salut dengan Jombang Santani Khairen dengan upaya dan kerja kerasnya mampu menyelesaikan novel ini sekaligus menyadarkan saya bahwa sekecil apapun kebaikan yang dibuat tak akan lepas dari perhitungan amal dari sang Mahapasti. Semoga inspirasi  ini menjadi tabungan kebaikan yang tak putus buat penulis dan semua pihak yang terlibat..aminnnn.